Jejak Kaki Misterius Kuak Buaya Prasejarah Berjalan dengan 2 Kaki

Liputan6.com, Jakarta - Baru-baru ini ditemukan jejak misterius yang mengarah kuat milik buaya prasejarah.

"Jejak kaki kuno yang tertanam di sebuah batu di Korea Selatan kemungkinan milik buaya prasejarah yang berjalan dengan dua kaki," kata ahli paleontologi seperti dikutip dari CNN, Jumat (12/6/2020).

Ini adalah pertama kalinya gaya berjalan ini ditemukan dalam keluarga buaya purba, yang biasanya berjalan dengan empat kaki seperti buaya dan aligator di dunia modern. Jejak yang terpelihara dengan baik termasuk jejak kaki yang panjangnya 18 sentimeter (7 inci) hingga 24 sentimeter (9 inci), menunjukkan panjang tubuh hingga 3 meter (10 kaki).

"Jejak yanag sempit dibuat seluruhnya oleh anggota badan belakang, dengan jejak tumit dan kaki yang jelas di beberapa area," menurut penelitian, yang dipublikasikan Kamis di jurnal Scientific Reports.

Sementara itu jejak kaki 'misterius' yang ditemukan di situs lain di Korea Selatan dianggap milik pterosaurus raksasa - reptil terbang prasejarah - berjalan dengan dua kaki. Tetapi para peneliti dari Korea Selatan dan Amerika Serikat mengatakan bahwa jejak itu kemungkinan berasal dari buaya kuno, yang mereka beri nama Batrachopus grandis, dan penemuan mereka mendukung pandangan yang berlaku di kalangan paleontolog bahwa pterosaurus berjalan dengan empat kaki.

Batrachopus grandis kemungkinan hidup lebih dari 100 juta tahun yang lalu pada periode Cretaceous awal. Mereka terutama hidup di darat daripada air, seperti kerabatnya hari ini. Mungkin saja hewan itu berjalan dengan dua kaki, tetapi juga bisa berjalan dengan empat kaki.

Tidak ada buaya prasejarah berkaki dua telah ditemukan dari periode ini. Meskipun penelitian mengatakan bahwa buaya yang berjalan dengan dua kaki mungkin telah menjelajahi Bumi jauh lebih awal, selama era Mesozoikum awal yang dimulai sekitar 250 juta tahun yang lalu.

Jejak Saat Berenang Atau Jalan?

Ilustrasi ini menggambarkan seperti apa rupa buaya prasejarah. (Anthony Romilio/University of Queensland)

Sebelum sampai pada kesimpulan mereka, para ahli paleontologi memperdebatkan apakah jejak kaki depan buaya ini tidak menembus tanah sedalam kaki belakang atau bahwa makhluk itu berenang ketika membuat jejak.

"Kami mengesampingkan berenang karena jejaknya begitu teratur," kata Martin Lockley, seorang ahli paleontologi dan profesor di University of Colorado dan seorang penulis penelitian.

"Buaya modern kadang-kadang menggunakan kaki belakang untuk menyepak, tetapi lintasannya tidak lengkap, tidak terhampar dan tidak berjalan satu kaki di depan pola lintasan berikutnya."

Mereka mengatakan tidak adanya jejak kaki depan yang konsisten dan jalur sempit menunjuk ke spesies baru yang berjalan dengan dua kaki.

Saksikan Juga Video Ini: