Jejak Karir Militer Try Sutrisno

Merdeka.com - Merdeka.com - Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 RI menjadi salah satu pejabat 'enggak punya duit' usai tak lagi menjabat. Bahkan, untuk memiliki hunian, Try Sutrisno menyicil rumah dinas selama 15 tahun.

Rumah yang sekarang Try Sutrisno tempati pasangan Presiden Soeharto era 1993–1998 bekas rumah dinas yang didapatkan saat menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Ia kemudian ditawari untuk membeli rumah tersebut setelah tidak lagi menjabat. Di tahun 1986, rumah tersebut ditawarkan dengan harga Rp85 juta yang kemudian diperbolehkan untuk dicicil selama 15 tahun.

Ia mengaku cukup beruntung karena dipilih menjadi Wakil Presiden dengan cukup mudah alias tanpa banyak kampanye. Ia menyebut jika harus berkampanye seperti zaman sekarang, dirinya mengaku tidak punya uang.

Bagaimana sepak terjang Try Sutrisno hingga menjadi Wakil Presiden pilihan Soeharto? Berikut profil Try Sutrisno yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber

1. Anak Sopir Ambulans

Jenderal TNI (Purn.) H. Try Sutrisno merupakan sosok kelahiran Surabaya, 15 November 1935. Ayahnya, Subandi merupakan salah satu dari petugas kesehatan, khususnya bagian sopir ambulans. Try Sutrisno pernah putus sekolah dan membantu mencari nafkah sebagai penjual rokok dan penjual koran saat ayahnya bekerja sebagai sebagai petugas medis untuk Batalyon Angkatan Darat Poncowati dan mengharuskan keluarganya pindah ke Mojokerto. Saat itu, Batalyon berfokus pada perlawanan terhadap Belanda yang kembali menduduki Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Melihat kegigihan ayahnya di Batalyon Poncowati membuat Try Sutrisno memiliki keinginan untuk turut bergabung. Tetapi, usianya yang saat itu masih 13 dianggap sebagai keinginan yang tidak serius. Oleh karena itu, ia hanya ditugaskan menjadi kurir yang mencari informasi ke daerah yang diduduki Belanda. Setelah Belanda mundur, keluarga Try Sutrisno kembali ke Surabaya dan ia dapat melanjutkan sekolahnya pada 1956.

2. Keinginan Kuat Try menjadi Bagian dari Militer

Setelah lulus SMA, keinginan Try untuk bergabung di dunia militer tidak surut. Ia memutuskan untuk mendaftar Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Ia baru lulus dari sana pada 1959. Tetapi, pada 1957 Try sudah terlibat dalam berperang melawan Pemberontakan PRRI yang merupakan kelompok separatis di Sumatra.

Tahun 1972 Try dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Dua tahun setelahnya, ia langsung dipilih menjadi ajudan Presiden Soeharto dan posisi itu merupakan bagian dari pijakan karir Try Sutrisno.

3. Jabatan Bergengsi

Empat tahun setelah Try terpilih menjadi ajudan Presiden, yakni 1978 ia langsung diangkat menjadi Kepala Staf di Komando Daerah Militer (KODAM) XVI/Udayana di Kepulauan Nusa Tenggara. Setahun kemudian, ia dimutasi dan menjadi Panglima di KODAM IV/Sriwijaya yang bermarkas di Palembang. Pada posisi ini, ia turut berperan untuk mengkampanyekan agar mengembalikan gajah Sumatra ke habitat aslinya.

1982 Try kembali dimutasi dan diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya di Jakarta. Tiga tahun berselang, pada 1985 Try dipercaya menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, yang kemudian di tahun 1986 menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Tak lama setelahnya, 1988 ia ditunjuk dan diamanahi sebagai Panglima ABRI dan menggantikan L.B. Moerdani. Di posisi ini, Try mengambil peran dalam menumpas pemberontakan di seluruh wilayah Indonesia. Masa jabatan Try sebagai Panglima ABRI sekaligus di dunia militer berhenti pada Februari 1993.

4. Terpilih menjadi Wakil Presiden

Try Sutrisno cepat-cepat dicalonkan oleh anggota MPR dari fraksi ABRI setelah masa jabatannya sebagai Pangab selesai dan Presiden Soeharto pun setuju. Try merupakan sosok yang populer pada masa itu. Bahkan, banyak yang sempat mengira Try akan menggantikan Presiden SOeharto. Bahkan, banyak pula pihak yang ingin Try Sutrisno untuk mengemban kembali jabatan sebagai Wakil Presiden. Meskipun ada dukungan yang kuat, Try Sutrisno tidak menegaskan dirinya dan pilihan Soeharto untuk Wakil Presiden periode selanjutnya diserahkan kepada B.J Habibie.

Selesai menjadi Wakil Presiden, Try kembali pada kiprahnya. Ia terpilih menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) pada 1998. Prestasi menterengnya ialah saat ia berhasil membuat Pepabri bersatu menjadi satu di bawah kepemimpinannya. Ia selesai menjabat pada 2003.

Try Sutrisno telah mendapatkan banyak penghargaan atas kerja yang dilakukan, di antaranya First Rank of the Order of Military Merits with Great Star - Yugoslavia, Grand Cross of the Order of Merit of the Federal Republic of Germany - Jerman, Commander of the Legion of Merit - Amerika Serikat, Order of National Security Merit - 1st Class (Tong-il Medal) - Korea Selatan, dan masih banyak lagi.

Reporter Magang: Aslamatur Rizqiyah [rhm]