Jejak Nomor dan Percakapan Atas Nama Ferdy Sambo Tak Terdeteksi di Dua Provider Ini

Merdeka.com - Merdeka.com - Provider XL Axiata dan Telkomsel mengaku sempat dimintakan data percakapan mulai dari Putri Candrawathi hingga Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, namun tidak ada data percakapan Ferdy Sambo yang diminta oleh penyidik.

Hal itu diungkap Legal Counsel pada provider PT. XL AXIATA, Viktor Kamang dan Provider PT Telekomunikasi Selular bagian officer security and Tech Compliance Support, Bimantara Jayadiputro ketika hadir sebagai saksi dalam perkara dugaan pembunuhan berencana, Brigadir J.

Berawal dari kesaksian Viktor selaku pihak Provider XL AXIATA, terkait dengan data percakapan pengguna layanan XL. Di mana dalam kasus ini, pihaknya sempat menyerahkan beberapa data panggilan atas permintaan dari penyidik Polri, namun permintaan itu tidak terkait dengan percakapan Ferdy Sambo.

"Yang saya sampaikan hanya ada nomor yang bisa saya cek. Kami sampaikan sistem kami tidak bisa mengecek berdasarkan kueri nama, hanya berdasarkan nomor saja. Kemudian nomor ini saya serahkan ke penyidik," kata Viktor saat sidang di PN Jakarta Selatan, Senin (7/11).

File itu diserahkan melalui email, sebagaimana surat permintaan pada 2 September dan 21 September. Penyidik meminta data percakapan seluler milik Brigadir J, Putri Candrawathi, Bharada E alias Richard Eliezer, Susi, Ricky Rizal, dan Kuat Maruf.

"Pertama di 2 September itu meminta nomor handphone yang terdaftar atas nama Yosua Hutabarat, Putri Candrawathi, Susi, Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Ricky Rizal Wibowo dan Kuat Ma'ruf dan nomor 08788825xxxx," beber dia.

"Itu terakhir nomor siapa?" tanya majelis hakim.

"Kami tidak tahu, dari kami muncul hanya nomor NIK saja, karena ini nomor prabayar sesuai aturan Menkominfo hanya disimpan NIK dan nomornya saja," beber Viktor.

Meski demikian, Viktor tak tahu isi percakapan yang diserahkan ke penyidik kepolisian. Menurut dia, isi dalam percakapan WhatsApp tidak terdeteksi.

"Hanya serahkan utuh?" tanya hakim.

"Ya," jawab Viktor.

"Isinya apa saja?" tanya kembali hakim.

"CDR, call data record. Di situ panggilan masuk, keluar, melalui telepon reguler dan SMS. Di luar itu apabila ada aplikasi pihak ketiga atau WhatsApp call tidak terdeteksi isinya," beber Viktor.

Hal serupa juga disampaikan oleh officer Security and Tech Compliance Support PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Bimantara Jayadiputro. Dia mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan data nomor kepada penyidik. Namun tidak ada nomor atas nama pengguna Ferdy Sambo.

"Kami dari Telkomsel terima surat dari Bareskrim terkait permintaan data registrasi dan CDR," kata Bimantara.

"Atas nama?" tanya hakim Wahyu Iman Santosa.

"Nofriansyah Yosua H, Putri Candrawathi, Susi, Richard Eliezer, Ricky, dan Kuat Maruf dan nomor 628228157xxxx dan 6281111xxxx, ketiga 628129152xxx, lanjutnya 628539404xxdd, 628226789xxx, terakhir 6281195xxx," kata dia.

Berangkat dari situ, Bimantara kemudian menjelaskan jika data yang diserahkan kepada penyidik berbentuk daya registrasi baik nomor NIK dan KK serta CDR (call data record).

"Ada yang lain data yang disampaikan percakapan apa?" tanya hakim.

"Kalau percakapan di CDR. Di situ panggilan masuk, keluar dan juga sms. Di luar itu, sama dengan XL apabila ada pihak ketiga misalnya WA kami tidak memiliki datanya," jawab Bimantara.

Tanggapan Kuasa Hukum Bharada E

Sementara dari keterangan itu, Penasihat Hukum Bharada E, Ronny Talapessy mempertanyakan terkait dengan hasil berita acara pemeriksaan (BAP) kalau tidak terekam data CDR.

"Di BAP saya lihat tanggal 8 tidak terrecord. Apa betul?" tanya Ronny saat sidang.

"Karena kita relly query itu berdasarkan nomor, lalu kita masukan tanggalnya," jawab Bimantara.

"Lalu di BAP tanggal 8 tidak ada sekali?" tanya Ronny kembali.

"Seperti itu memang tidak ada di sistem," kata Bimantara.

Dari cecaran pertanyaan Ronny, Bimantara menjawab bahwa pihaknya hanya bertugas untuk mengquery (pertanyaan) dari hasil apa yang ada dan ditampilkan dalam sistem.

"Jadi tanggal 8 tidak ada sama sekali?" tanya Ronny.

"Kalau memang tidak ada, berarti tidak ada," jawab Bimantara.

Sekedar informasi jika Viktor dan Bimantara adalah sosok perwakilan dari provider yang kala itu sempat diminta penyidik menyerahkan data percakapan Brigadir J, Putri Candrawathi, Bharada E alias Richard Eliezer, Susi, Ricky Rizal, dan Kuat Maruf.

Dia dihadirkan bersamaan dengan ketiga saksi saksi lainnya yakni Petugas Swab di Smart Co Lab, Nevi Afrilia; Petugas Swab di Smart Co Lab, Ishbah Azka Tilawah; dan sopir ambulans, Ahmad Syahrul Ramadhan.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [ded]