Jejak Perjuangan Salahuddin Sebelum Berakhir di Hadapan Regu Tembak

Merdeka.com - Merdeka.com - Tahun ini pemerintah kembali melakukan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada lima tokoh terpilih yang diseleksi berdasarkan usulan masyarakat. Kelima tokoh ini dinilai layak mendapat gelar sebagai pahlawan nasional karena kegigihan da dedikasinya untuk berjuang terhadap pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Salah satu dari kelima tokoh tersebut ialah Salahuddin bin Talabuddin, atau yang lebih dikenal Haji Salahuddin. Dia merupakan pejuang kemerdekaan yang terlahir dari sebuah desa terpencil di Maluku Utara, tepatnya di Desa Gemia, Patani, Halmahera Tengah, sekitar 148 tahun silam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun merdeka.com, Salahuddin adalah sosok pejuang kemerdekaan yang gigih mengabdikan dirinya untuk mempertahankan kemerdekaan Indoensia. Di umurnya yang ke-54, dia bergabung dalam organisasi Sarekat Islam Merah (SI-Merah).

Pada awal 1920-an, banyak dari tokoh-tokoh Islam yang berpaham pada Marxisme dalam ideologi perjuangannya. Pemikiran Karl Marx yang revolusioner dan radikal, dianggap sesuai dengan metode perjuangan dari penindasan oleh sebagian tokoh Islam.

Kemudian pada tahun 1938, Haji Salahuddin bergabung dengan PSII dan duduk di kepengurusan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) bersama M. Arsyad Hanafi, M.S. Djahir, A.S. Bachmid dan lainya.

Namun setelah sekian tahun bergabung dalam organisasi tersebut, Salahuddin ditangkap dan dipenjarakan di Nusakambangan oleh kolonial Belanda, karena dianggap dapat memberikan ancaman bagi Kolonial Belanda dengan adanya aktivitas politiknya itu.

Sempat dipindahkan ke Digoel, Papua, Haji Salahuddin akhirnya dibebaskan setelah Jepang menduduki Tanah Air. Dia sempat menetap beberapa saat di Sorong, sebelum akhirnya pindah ke pulau Gebe pada 1946 untuk mendirikan organisasi keagamaan bernama Sarikat Jamiatul Iman Wal Islam.

Organisasi ini lebih dikenal dengan sebutan Sarekat Islam (SI) oleh para pengikutnya. Tujuan dari Salahuddin mendirikan Sarekat Islam jilid dua itu adalah untuk mempertahankan agama Islam dan Negara Republik Indonesia.

Hingga akhir Januari 1947 anggota SI mencapai 3.000 orang. Dengan semakin banyaknya pengikut dari Haji Salahuddin, Belanda mulai melakukan berbagai cara untuk memecah belah organisasi tersebut agar tidak membahayakan pihaknya.

Mereka membuat berbagai propaganda-propaganda hingga upaya penangkapan terhadap Haji Salahuddin. Namun sayangnya aksi tersebut tidak pernah berhasil.

Hingga akhirnya pada Juni 1948, Haji Salahuddin dijatuhi hukuman mati. Setelah sebelumnya ditangkap dan diadili di Pengadilan Negeri Ternate. Dia dieksekusi mati di depan regu tembak di lapangan tembak Skip Ternate tepat pukul 06.00 waktu setempat. Jasad almarhum pun dikebumikan di pekuburan Islam Ternate.

Untuk diketahui, Haji Salahuddin tidak melakukan perlawanan atau melakukan banding maupun kasasi lantaran dirinya menganggap pengadilan tersebut tidak sah. Pengadilan yang sah adalah pengadilan di bawah pemerintah Republik Indonesia. Sungguh besar jasa yang tidak akan pernah bisa terbalas, atas pengorbanan Haji Salahuddin dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari tangan Kolonial Belanda.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]