Jejak Tubagus Chaeri dalam Korupsi RSUD Balaraja

TEMPO.CO , Tangerang: Korupsi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balaraja senilai Rp 14,115 miliar yang dihentikan Kejaksaan Tinggi Banten menyisakan informasi menarik. Ada jejak Tubagus Chaeri Wardana, yang kini menjadi tersangka penyuapan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar.

Mantan Kejaksaan Negeri Tangerang, Agus Sutoto menyatakan bahwa kasus itu pada 2008 awalnya ditangani tim penyidik pidana khusus Kejaksaan Negeri Tangerang. Dalam penyelidikannya, pihaknya menetapkan lima tersangka. »Salah satu tersangka John Chaidir sebagai direktur utama kontraktor proyek PT. Glindingmas Wahana Nusa,” kata Sutoto, Senin, 7 Oktober 2013.

Namun Kejaksaan Negeri Tangerang tidak bisa lagi mengungkap kasus itu lebih dalam lantaran diambil alih Kejaksaan Tinggi Banten yang saat itu kepala kejaksaan tinggi dijabat Dondy Kumando Soedirman. »Kelanjutannya saya tidak mengetahui,”ujar Sutoto.

Sumber Tempo menyebut kasus itu melibatkan Tubagus Chaeri Wardana. Mantan Kepala seksi pidana khusus Kejaksaan Negeri Tangerang, Rahmat Haryanto mengatakan Chaeri bisa jadi ‘terlibat’. Sayangnya sejauh ini Kejaksaan Negeri belum memeriksanya.

»Kami memang pada waktu itu berencana memanggil (-Chaeri) untuk mendalami kasus itu. Namun Kejaksaan Tinggi Banten keburu mengambil alih,”kata Rahmat.

Chaeri Disebut

Nama Chaeri kata Rahmat disebut oleh tersangka John Chaidir.  Namun, kata dia, dirinya tak bisa memastikan apakan penyebutan nama itu sebagai dalih John sebagai perlindungan karena dia (-Chaeri) masih kerabatnya. »Kami belum dalami saat itu,” kata Rahmat.

John Chaidir ternyata merupakan suami Ratu Tatu Chasanah, Wakil Bupati Serang 2010-2015. Tatu merupakan anak kedua Chasan Sochib dan Wasiah Samsudin. Dia adik kedua Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah sekaligus kakak Tubagus Chaeri, suami Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany.

John disebut-sebut sebagai alumni Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung. Dia menjabat Direktur utama PT. Glindingmas Wahana Nusa. Perusahaan ini beralamat di jalan Dr. Hatta 187 Sukamah Cipedes, Bandung, Jawa Barat.

Selain John, empat tersangka lainnya adalah pejabat kala itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Djadja B Suhardja, Pejabat Pembuat Komitmen Dinkes Provinsi Banten, Natsir Azis, Kepala Proyek Dimas Widyatmo dan konsultan pengawas proyek dari PT. Cipta Sarana Mitra Ade Siswanto.

Kelima tersangka itu dikenai Undang-undang Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 dan 3 jo. Pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman minimal empat tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.

Modus Laporan Palsu

Dalam penyidikan Kejaksaan Tangerang menurut Agus Sutoto, modus operandi para tersangka adalah membuat laporan palsu secara bersamaan tentang kemajuan pembangunan RSUD Balaraja. Laporan kemajuan pembangunan tersebut untuk mencairkan dana ke Dinkes Provinsi Banten sebesar Rp 14,115 miliar. Padahal laporan kemajuan proyek tidak sesuai dengan bangunan fisiknya.

Dugaan praktek korupsi tersebut berawal dari pencarian dana dekonsentrasi Departemen Kesehatan melalui APBN 2006 kepada Dinkes Provinsi Banten sebesar Rp 14,115 miliar. Dana itu untuk bangunan fisik. Dana pengurukan mencapai Rp 6,156 miliar dan pengadaan alat kesehatan sebesar Rp 2,5 miliar.

Meski sudah menghabiskan dana lebih dari Rp 20 miliar, pembangunan dua unit bangunan fisik berupa gedung perkantoran dan unit gawat darurat baru mencapai 12%. Hasil pengumpulan data dan survei lokasi menunjukkan sejumlah bangunan fisik tak sesuai laporan kemajuan proyek, di antaranya toilet, keramik lantai, sakelar dan jaringan listrik.

AYU CIPTA

Berita Populer

Inikah Foto Daryono, Sopir 'Misterius' Akil? 

Tersangka Suap Hambit Bintih Menang di MK 

KPK Panggil Ratu Atut di 'Jumat Keramat' 

Akil Mochtar Bisa Dijerat Pencucian Uang 

MK Buka Kotak Pos Pengaduan Etik Hakim  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.