Jelang BRI Liga 1: Bali United, Sang Juara Bertahan yang Mengubah Kiblat Sepak Bola Indonesia

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Bali - Sudah cukup lama sepak bola di Pulau Dewata tidak bergeliat. Padahal sederet klub-klub legendaris sempat ada di Bali. Misalnya Caprina Bali FC, Gelora Dewata, Persegi Gianyar, Persekaba Badung, Perseden Denpasar, bahkan hingga Bali Devata.

Seiring berjalannya waktu, sosok pengusaha yang sekarang menjadi Anggota Exco PSSI Pieter Tanuri menangkap peluang besar di Bali. Awalnya ia mencoba untuk mendirikan sebuah klub sepak bola profesional.

Dari penuturan berbagai sumber, proses untuk memilih Bali dan membentuk Bali United Pusam saat itu cukup lama meskipun klub yang menjadi kampiun Liga 1 2019 tersebut akhirnya diresmikan pada 15 Februari 2015.

Pieter dan Yabes Tanuri mengakusisi klub Putra Samarinda dan terbentuklah Bali United Pusam. Di tahun 2014, Yabes sempat berkeliling untuk mencari stadion yang tepat untuk Bali United.

Akhirnya dipilihlah Stadion Kapten I Wayan Dipta. Kondisinya tidak terurus saat itu. Tanaman liar, semak belukar, dan cat yang luntur adalah kondisi stadion yang selesai dibangun pada 2004 tersebut.

Setelah bertemu dengan tokoh-tokoh sepak bola di Bali dan memilih tempat di Stadion Dipta, sebagai homebase mereka. Tapi sebelum berpindah ke Bali, Pusam saat itu sempat ditawarkan untuk pindah ke Sleman, Bandung, dan Martapura.

Proses akusisi tersebut sebenarnya adalah “lagu lama” karena masalah finansial dari klub yang bermarkas di Stadion Palaran, Samrinda itu. Disaat yang bersamaan, beberapa pemain yang masih terikat kontrak dengan Pusam, ikut diboyong ke Bali.

Satu di antara sederet pemain tersebut yang masih bertahan hingga sekarang adalah Fadil Sausu. Lerby Eliandry Pong Babu juga menjadi pemain yang diboyong dari Pusam sebelum akhirnya hengkang ke Borneo FC sebelum kembali lagi ke Bali United.

2015: Kelahiran Bali United dan Juara Liga 1 2019

Indra Sjafri saat menjadi pelatih Bali United tahun 2015 silam. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Indra Sjafri saat menjadi pelatih Bali United tahun 2015 silam. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Pada 2015 setelah meresmikan Bali United Pusam FC, Pieter dan Yabes memperkenalkan ke khalayak banyak bahwa Bali kembali memiliki klub sepak bola profesional.

Dipilihnya Bali sebagai markas klub yang dibentuknya pun sederhana, karena nama Bali yang begitu tersohor di dunia.

Setelah terbentuk Bali United dan mengontrak beberapa pemain Timnas U-19 di AFF U-19 pada tahun 2013 dan memboyong semua pelatih Timnas U-19 saat itu seperti Indra Sjafri dan Eko Purdjianto, perjalanan Serdadu tridatu pun dimulai.

Jatuh bangun dirasakan mereka. Sempat Bali United menjadi juara di Liga 1 2017 sebelum akhirnya “dirampok” Bhayangkara FC yang membuat suporter di Indonesia menjuluki Bali United sebagai klub juara tanpa mahkota.

Setelah menunggu dua tahun, penantian Bali United usai. Mereka berhasil juara Liga 1 2019. Ditahun yang sama, mereka mencetak sejarah sebagai klub Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang melantai di bursa saham dan menjadi klub sepak bola kedua di Asia yang terdaftar di bursa saham.

Serdadu Tridatu-lah yang mengubah peta persepakbolaan Indonesia. Bali United menjadi kiblat sepak bola modern di Tanah Air. Bahkan beberapa klub seperti PS Sleman tidak segan-segan berguru dengan Bali United.

Bali United, Klub Baru tapi Jadi Daya Tarik

Para pemain Bali United merayakan gelar juara Liga 1 2019 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Minggu (22/12). Bali berada di peringkat satu dengan meraih 64 poin. (Bola.com/Aditya Wany)
Para pemain Bali United merayakan gelar juara Liga 1 2019 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Minggu (22/12). Bali berada di peringkat satu dengan meraih 64 poin. (Bola.com/Aditya Wany)

Disaat banyak klub di Indonesia yang krisis finansial dan bahkan belum memenuhi kewajiban mereka kepada pemain, Bali United mencoba untuk tetap konsisten dan berusaha tidak ada penunggakan gaji.

Itu sebabnya banyak pemain terutama pemain asing yang ingin berlabuh di sini. Contoh saja Brwa Nouri dan Melvin Platje. Dua pemain asing ini sebenarnya menjadi incaran beberapa klub Eropa dan Asia.

Namun keduanya tetap memilih bertahan di Bali United. Selain nilai kontrak, tentu saja keindahan Pulau Dewata membuat mereka bertahan.

Inovasi menjadi salah satu kunci mengapa mereka bisa bertahan. CEO Bali United sekaligus Presiden PT Bali Bintang Sejahtera, Tbk, Yabes Tanuri mengungkapkan jika kunci keberhasilan Bali United bertahan hingga sekarang termasuk berjuang dua tahun di tengah pandemi COVID-19 adalah inovasi.

“Kami tetap terus menerus me-maintain sponsorship yang sudah ada maupun sponsorship baru dengan membuat terobosan aktivasi sponsor. Kami juga melakukan ekspansi anak perusahaan sehingga dapat menambah revenue stream lain dari anak perusahaan tersebut,” jelas Yabes.

“Kami juga tidak berhenti membuat aktivasi seperti Bali Virtual Island Cup 2020 yang melibatkan tim Liga 1 lain serta juga rangkaian pre-season match Bali United Tour de Java bulan Juni kemarin,” tutup Yabes.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel