Jelang Libur Akhir Tahun, Satgas COVID-19 Imbau Masyarakat Belajar dari Pengalaman Lonjakan Kasus Corona

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Libur akhir tahun sudah di depan mata. Data menunjukkan, lonjakan kasus positif COVID-19 selalu terjadi usai libur panjang. Karenanya, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengingatkan agar masyarakat menahan diri bepergian kecuali sangat mendesak. Jika terpaksa bepergian, masyarakat diminta memahami risiko yang akan dihadapi.

Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Indonesia mencatat tiga kali lonjakan kasus positif COVID-19 yang selalu terjadi usai libur panjang. Pertama saat libur Idul Fitri pada Mei lalu, kemudian usai Tahun Baru Islam pada Agustus, dan lilbur Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhir Oktober 2020.

Disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito, libur panjang jika tidak dibarengi regulasi yang ketat hanya akan memunculkan banyak kerumunan. Hal inilah yang akhirnya membuat orang-orang abai menjaga jarak dan tidak disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan 3M.

"Liburan panjang mendatang adalah kali keempat dan seharusnya kita mampu belajar dari pengalaman lalu. Apapun yang pemerintah putuskan terkait pelaku perjalanan di libur panjang akhir tahun, ini demi keselamatan bersama," ujar Wiku dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (17/12/2020).

Wiku melanjutkan, anjloknya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan akan berujung pada peningkatan penularan infeksi virus di tengah masyarakat. Apabila hal ini terjadi, maka peningkatan kasus positif COVID-19 yang tidak didukung dengan cukupnya pelayanan kesehatan justru akan menurunkan peluang kesembuhan.

"Sebaliknya, angka kematian berpotensi meningkat di level daerah dan berdampak pada tingkat nasional. Peningkatan kasus yang signifikan semakin meningkatkan keterisian tempat tidur dan beban kerja di fasilitas kesehatan," jelasnya.

Menurut Wiku, ada hubungan linear yang jelas antara mobilitas penduduk dengan peningkatan kasus COVID-19. Hal ini sudah terbukti pada tiga periode libur panjang yang sebelumnya terjadi.

Jika Harus Melakukan Perjalanan

Jika memang perjalanan terpaksa tetap dilakukan, Wiku meminta masyarakat menjalankan tiga hal berikut secara bertanggung jawab.

  • Pertama, patuhi protokol kesehatan 3M, mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

  • Kedua, masyarakat diminta memenuhi seluruh syarat perjalanan yang ditetapkan pemerintah.

  • Ketiga, masyarakat diminta mencari tahu kondisi penularan virus korona serta kecukupan layanan fasilitas kesehatan di daerah tujuan.

"Hindari melakukan perjalanan ke daerah yang kasusnya masih tinggi dan faskesnya terbatas. Seperti kita tahu, kapasitas tempat tidur isolasi dan ICU COVID-19 pada saat ini masih terbatas terutama di daerah dengan kasus yang masih tinggi. Jadikan ini pertimbangan agar tidak sulitkan diri sendiri dan pemda," kata Wiku.

Masyarakat juga diminta membatalkan perjalanan apabila dalam kondisi sakit. Perjalanan juga harus dibatalkan bila calon penumpang tergolong suspek atau positif COVID-19 meski tidak memiliki gejala. Selain itu, pembatalan juga perlu dilakukan apabila calon penumpang sempat berada di sekitar seseorang yang suspek atau positif dalam 14 hari terakhir meski tidak ada gejala dan sedang menunggu hasil tes COVID-19.

"Kita sudah hadapi pandemi 10 bulan dan saya tahu pandemi ini sangat berat buat kita semua. Meski begitu kita harus melatih diri untuk jadi individu yang bertanggung jawab," pungkas Wiku.

Infografis

Infografis Hati-Hati, Ini 5 Gejala Batuk Akibat Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Hati-Hati, Ini 5 Gejala Batuk Akibat Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak juga Video Menarik Berikut Ini