Jelang Muktamar NU, Forum Kiai Kampung: Jadi Ketum PBNU Tak Seperti Parpol

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Forum Komunikasi Kiai Kampung Indonesia (FK3I), Mas Muhammad Maftuch yang akrab disapa Gus Maftuch angkat bicara menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 23-25 Desember 2021 mendatang.

Menurut Gus Maftuch, Nahdlatul Ulama (NU) hanya layak dipimpin oleh seorang ulama yang sangat alim wa alamah wa faqih.

Artinya, kata dia, yang layak memimpin dan menakhodai NU adalah sosok yang sangat alim dan cerdas.

"Selain itu pula, menjadi Ketua NU haruslah peka zaman atau sesuai dengan keadaan dan kebutuhan zaman. Hal itu tanpa perlu dipaksakan dan dicari-cari, pastinya selalu begitu sosok yang menjadi Ketua Umum PBNU," ujar Gus Maftuch kepada wartawan di Surabaya, Senin (11/10/2021).

"Pada era saat ini, KH Marsudi Syuhud yang paling layak memimpin atau menakhodai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk meneruskan estafet kepemimpinan KH Said Aqil Siraj," sambung dia.

Gus Maftuch mengungkapkan, menjadi Ketua Umum (Ketum) PBNU adalah orang-orang pilihan, tidak seperti Partai Politik (Parpol) yang memakai polling-pollingan.

"Poling-polingan bukan tradisi budaya NU," terang dia.

Gus Maftuch yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad ini menegaskan, selain KH Marsudi Syuhud, belum ada figur lain saat ini yang pantas untuk menggantikan Buya Said Aqil sebagai Ketua Umum PBNU.

"Yang kapasitas, kapabilitas, kredibilitasnya seperti Buya Said, apalagi keilmuan, kealiman dan dan kefaqihannya. Mari kita bersama-sama selaku umat dan warga NU istighotsah, tahlil, mujahadah dan doa bersama semoga KH Marsudi Syuhud terpilih memimpin NU dalam Muktamar NU di Lampung, Desember nanti," jelas Gus Maftuch.

Penilaian untuk Said Aqil

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj  (Liputan6.com/Johan Tallo)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sementara itu, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) yang juga merupakan pengurus FK3I menambahkan, selama satu dekade NU telah dipimpin KH Said Aqil Siraj, ulama yang sangat alim dan faqih dalam ilmu agama, terlebih ilmu kitabnya.

"Buya Said juga merupakan seorang profesor doktor yang tentunya ahli juga, pakar dalam banyak bidang, dan sangat dicintai warga Nahdliyyin yang ada di perkotaan ataupun yang berada di kampung atau desa," terang Gus Wal.

"Beliau disegani dalam skala nasional, juga sangat dihormati di dunia Internasional. Hal itu tak lepas dari keilmuan dan kefaqihan Buya Said," sambung dia.

Selama memimpin NU, lanjut Gus Wal, Kiai Said dinilai selalu peka dan peduli terhadap masalah dan penderitaan warga Nahdliyyin.

"Dewasa ini, hanya Buya Said dan KH Marsudi Syuhud yang peka terhadap masalah dan apa yang dialami warga Nahdliyyin," ucap dia.

Seperti beberapa hari ini, KH Marsudi Syuhud sangat prihatin ketika ada 600 KK atau sekitar tiga ribu warga NU yang terdampak langsung dan 10 ribu warga yang tidak terdampak langsung di Desa Blaru Kecamatan Badas Kabupaten Kediri.

Tanah lahan pertaniannya dizalimi oleh penambangan Galian C yang dilakukan oleh PT Gemilang Bumi Sarana.

"Bahkan beliau sampai meneteskan air mata dan sangat terpukul hatinya ketika ada tujuh orang petani warga NU yang memperjuangkan membela tanah lahan pertaniannya malah dipanggil pihak Polres Kediri, karena diduga menghalangi aktivitas penambangan," ucap Gus Wal.

"KH Marsudi Syuhud selama mendampingi Buya Said Aqil Siraj telah membuktikan kelasnya sebagai pemimpin NU. Beliau selalu menomorsatukan kepentingan dan kemashlahatan warga NU," pungkas Gus Wal.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel