Jelang peluncuran pasar digital, pedagang ingin edukasi keuangan

Para pedagang di Pasar Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menginginkan edukasi keuangan digital guna menunjang program Digitalisasi Pasar Purbalingga yang akan diluncurkan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.

Adapun salah satu implementasi program Digitalisasi Pasar adalah transaksi belanja nontunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

"Kalau saya masih khawatir dibohongi untuk pembelian nontunai, masih perlu belajar bagaimana mengecek lewat ponsel pintar," kata pedagang daging sapi dan ayam Rosiyani (52) di Pasar Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis.

Menurut pedagang yang sudah empat tahun menempati lapak di Pasar Bukateja tersebut, pembayaran dengan QRIS merupakan hal baru baginya.

Sehingga, Rosiyani merasa perlu untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana pengelolaan pembayaran lewat QRIS, hingga pengecekan uang masuk hasil penjualan yang ia terima agar dapat dilakukan dengan cepat dan cermat.

Hal senada disampaikan pedagang buah-buahan bernama Badriah (40), yang mengaku telah empat bulan menggunakan QRIS dalam transaksi perdagangannya.

Menurut Badriah, saat ini belum banyak pelanggan yang memanfaatkan pembayaran melalui QRIS untuk membeli buah-buahan yang ia jual.

Namun, ia yakin ke depan akan semakin banyak dimanfaatkan, sehingga ia akan mempelajarinya.

"Saat ini memang belum banyak yang membayar melalui QRIS, tapi ke depan pasti akan lebih banyak," ujar Badriah.

Sementara itu, pedagang bubur dan kue pasar bernama Mita (35) menyampaikan bahwa pembayaran melalui QRIS seringkali menjadi penyelamat bagi pelanggan yang tidak membawa uang tunai.

"Waktu itu ada yang membeli, lalu lupa membawa uang. Akhirnya menggunakan ponsel untuk membayar pakai QRIS," kata Mita.

Baca juga: APPSI harapkan kebijakan adil program digitalisasi pasar

Baca juga: Mendag minta pedagang pasar di Banda Aceh jajaki platform digital