Jelang Piala AFF 2020: Dualisme yang Sebabkan Skuad Timnas Indonesia ala Kadarnya dan Merana di Malaysia

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia berada di dalam masa-masa kelam saat Piala AFF 2012 berlangsung. Dualisme kepengurusan PSSI berimbas besar kepada Tim Garuda, yang sempat mengalami perpecahan.

Hasilnya cukup buruk, Tim Merah-Putih yang tidak dibentuk dari pemain-pemain terbaik gagal lolos dari fase penyisihan grup di Malaysia. Konyolnya lagi, Timnas Indonesia ditahan imbang Laos 2-2, tim yang pada edisi-edisi Piala AFF sebelumnya selalu takluk dengan skor besar.

Khampheng Sayavutthi membuat Indonesia tertinggal lebih dulu melalui eksekusi penalti pada menit ke-30. Raphael Maitimo pun membuktikan bahwa dirinya adalah pemain naturalisasi yang tepat untuk Indonesia dengan gol penyeimbang yang dicetaknya dua menit sebelum babak pertama usai.

Namun, pertandingan berakhir dengan hasil imbang 2-2 setelah Keoviengpeth Liththideth membawa Laos kembali unggul sebelum akhirnya disamakan kembali oleh Vendry Mofu.

Hasil pertandingan perdana itu pun sangat mengecewakan tapi memang sudah bisa diprediksi sebelumnya karena Timnas Indonesia memang dinilai berangkat tanpa komposisi yang terbaik.

Hasil itu membuat banyak publik penggemar sepak bola Indonesia pesimistis di pertandingan kedua, di mana Timnas Indonesia menghadapi Singapura, tim yang sudah dua kali menjadi juara Piala AFF, yaitu pada 2004 dan 2007.

Namun, di pertandingan inilah Timnas Indonesia mampu memperlihatkan sebuah titik balik yang bagus walau hanya menang tipis 1-0.

Tiga poin penting diamankan tim asuhan Nilmaizar berkat sebuah gol cantik yang dicetak oleh Andik Vermansah. Tendangan bebas dari jarak jauh dilepaskan Andik dan langsung mengoyak jala gawang Timnas Singapura melalui sudut atas gawang. Satu gol tersebut menjadi motivasi yang sangat baik untuk menghadapi tuan rumah Malaysia di pertandingan terakhir.

Dipecundangi Malaysia

Andik Vermansah saat membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2012. (AFP/Saeed Khan)
Andik Vermansah saat membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2012. (AFP/Saeed Khan)

Persaingan menuju semifinal dari Grup B Piala AFF 2012 memang sangat menarik. Indonesia memiliki empat poin dari hasil imbang kontra Laos dan kemenangan atas Singapura. Sementara itu, Malaysia dan Singapura sama-sama memiliki tiga poin dari satu kemenangan yang mereka raih dalam dua pertandingan pertama.

Singapura yang menghadapi Laos di pertandingan terakhir pun diprediksi akan mengamankan satu tempat di semifinal. Sementara itu, Timnas Indonesia dan Malaysia harus bertarung keras untuk bisa mengamankan jatah satu tempat lainnya.

Dua pertandingan terakhir digelar dalam waktu yang sama. Singapura sempat tertinggal dari Laos pada menit ke-21. Namun, di pertandingan lain Malaysia pun mencetak gol ke gawang Indonesia pada menit ke-27 melalui Azamuddin Akil.

Timnas Indonesia pun dalam kondisi yang sangat sulit begitu tertinggal satu gol. Dua menit berselang, giliran Mahali Jasuli yang menjebol gawang Timnas Indonesia yang dikawal Wahyu Tri Nugroho.

Dua gol yang bersarang di gawang Indonesia itu tak mampu dibalas oleh Andik Vermansah dkk. Sementara di pertandingan lain Singapura akhirnya menang 4-3 atas Laos.Irfan Bachdim dkk. pun tersingkir.

Singapura dan Malaysia menjadi dua tim yang lolos dari Grup B dengan sama-sama mengumpulkan enam poin, unggul dua poin dari Timnas Indonesia.

Skuad ala Kadarnya

Timnas Indonesia merayakan gol Vendry Mofu ke gawang Laos di penyisihan grup Piala AFF 2012. (AFP/Mohd Rasfan)
Timnas Indonesia merayakan gol Vendry Mofu ke gawang Laos di penyisihan grup Piala AFF 2012. (AFP/Mohd Rasfan)

Tim Garuda yang berangkat ke Malaysia dipimpin oleh pelatih Nilmaizar, diisi oleh mayoritas dari klub-klub Indonesia Premier League (IPL).

Pemain-pemain asal klub Indonesia Super League (ISL) melakukan aksi boikot karena diancam diputus kontrak oleh klubnya. Hanya Bambang Pamungkas (Persija Jakarta) dan Oktovianus Maniani (Persiram Raja Ampat) yang datang memenuhi panggilan membela negara.

Saat itu klub-klub ISL tengah melakukan pemberontakan ke PSSI, yang merubah sistem kompetisi profesional dengan mengabaikan statuta. Disokong sejumlah anggota Komite Eksekutif PSSI, mereka kemudian membuat organisasi tandingan, Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI).

Jelang Piala AFF 2012, KPSI sempat membentuk timnas sendiri dengan asuhan Alfred Riedl, yang belakangan eksistensinya tidak diakui AFF.

Alhasil Nil Maizar hanya memberdayakan pemain alakadarnya. Ia bahkan sampai harus memasukkan nama Elie Aiboy, pemain gaek yang sejatinya tidak lagi cukup pantas membela Tim Merah-Putih.

Untuk menambal skuat Timnas Indonesia, PSSI mendatangkan pemain naturalisasi, Raphael Maitimo, Tonnie Cussel, dan Jhon van Beukering, yang sayangnya performanya ternyata di bawah ekspetasi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel