Jelang Piala Dunia 2022 : Yuk, Simak Nih Ketika Anak Lebih Hebat dari Sang Ayah

Bola.com, Jakarta - Dalam sejarah Piala Dunia, tak banyak 'keluarga dekat' yang bisa tampil. Semakin langka jika disortir jika 'sedarah' itu bisa berada dalam satu turnamen secara bersama.

Namun, di dunia sepak bola secara umum, keberadaan keluarga, terutama ayah dan anak, yang berada dalam satu lapangan, sudah tak asing lagi. Istilah 'Like Father Like Son' dan buah jatuh tak jauh dari pohonnya kerap mewarnai dunia sepak bola.

 

Kisah Beragam

Kisahnya beragam. Ada anak yang tak bisa mengikuti jejak ayahnya. Tapi, tak sedikit yang justru lebih besar dari sang ayah.

Siapa yang tak kenal Diego Maradona dan Johan Cruyff? Maradona pernah memenangkan Piala Dunia 1986 bagi Argentina. Di level klub, Maradona juga panen gelar.

Sedangkan Cruyff adalah legenda Belanda. Dia memimpin Belanda di Piala Dunia 1974 hingga ke final, namun kalah dari tuan tuan rumah Jerman Barat. Kalau kamu pernah mendengar istilah total football, generasi Cruyff-lah yang pertam kali menerapkannya di bawah asuhan Rinus Michels.

 

Malah Tenggelam

Namun, anak Maradona dan Cruyff, tenggelam di balik nama besar ayah mereka. Diego Armando Maradona Sinagra pernah membela sejumlah klub sebelum akhirnya meneruskan karier ke sepak bola pantai.

Nasib apes juga menimpa Jordi Cruyff. Digadang-gadang bakal hebat seperti sang ayah, Cruyff menghilang begitu cepat. Jordi pernah memperkuat Barcelona dan Manchester United sebelumnya akhirnya pensiun di klub kurang beken: Valletta.

Nah, mau tahu siapa pemain yang justru melebih ayahnya?

 

Geoff Hurst dan Charlie Hurst

Legenda_West Ham_Geoff Hurst (Bola.com/Adreanus Titus)
Legenda_West Ham_Geoff Hurst (Bola.com/Adreanus Titus)

Geoff Hurst adalah Satu di antara tokoh paling terkenal dalam sejarah sepak bola Inggris. Legenda West Ham telah mencetak lebih dari 300 gol sepanjang kariernya selama 17 tahun.

Namun, satu hal yang akan diingat oleh penggemar adalah hat-tricknya di final Piala Dunia 1966. Itu adalah gelar pertama Inggris di Piala Dunia yang belum berlanjut hingga sekarang.

 

Catatan Lain

Setelah pensiun sebagai pemain, Hurst masuk ke dalam manajemen dan melatih Chelsea selama dua tahun (1979–1981), sebelum akhirnya pensiun dari segala bentuk olahraga. Dia kemudian dianugerahi gelar kebangsawanan.

Ayahnya, Charlie Hurst, juga seorang pesepakbola profesional, tetapi kariernya terganggu oleh Perang Dunia II. Akibatnya, dia tidak pernah membuat penampilan profesionalnya bersama Timnas Inggris.

 

Diego Forlan dan Pablo Forlan

Eskpresi striker Uruguay Diego Forlan setelah gagal memanfaatkan peluang di laga semifinal PD 2010 melawan Belanda di Green Point Stadium, Cape Town, 6 Juli 2010. AFP PHOTO / FRANCK FIFE
Eskpresi striker Uruguay Diego Forlan setelah gagal memanfaatkan peluang di laga semifinal PD 2010 melawan Belanda di Green Point Stadium, Cape Town, 6 Juli 2010. AFP PHOTO / FRANCK FIFE

Satu di antara bomber paling mematikan dalam sejarah sepak bola dunia, Diego Forlan memiliki karier yang sensasional di Eropa, khususnya di La Liga. Terlepas dari penampilannya yang buruk di Manchester United, Forlan berhasil pulih dan mencapai performa terbaiknya setelah meninggalkan Setan Merah.

Dia bergabung dengan Liga Spanyol dan selama di Villarreal dan Atletico Madrid, dia memenangkan penghargaan Pichichi, alias Sepatu Emas Spanyol. Di level negaranya, Uruguay, Forlan memainkan 112 pertandingan dan mencetak 36 gol.

 

Sensasi 2010

Gaya striker Uruguay Diego Forlan di laga penyisihan Grup A PD 2010 melawan Prancis di Cape Town Stadium, 11 Juni 2010. Skor akhir 0-0. AFP PHOTO / KARIM JAAFAR
Gaya striker Uruguay Diego Forlan di laga penyisihan Grup A PD 2010 melawan Prancis di Cape Town Stadium, 11 Juni 2010. Skor akhir 0-0. AFP PHOTO / KARIM JAAFAR

Pada Piala Dunia 2010, Forlan mengalahkan Thomas Muller, Wesley Sneijder, dan David Villa dalam memperebutkan Golden Ball sebagai Pemain Terbaik. Dia berjasa membawa Uruguay ke semifinal dan finis di peringkat keempat.

Dia melanjutkan penampilan gemilangnya yang membawa Uruguay memenangkan Copa America ke-15 pada tahun 2011. Ayahnya, Pablo Forlan, juga seorang pesepakbola profesional, tetapi tidak seperti putranya. Pablo tidak pernah berkelana ke luar Amerika Selatan selama karirenya.

Pablo, bagaimanapun, memenangkan tujuh Kejuaraan Liga Uruguay bersama dengan gelar Copa Libertadores pada 1960-an. Dia hanya mengantongi 17 caps di timnas.

 

Gonzalo Higuain dan Jorge Higuain

Pemain timnas Argentina, Gonzalo Higuain berebut bola dengan pemain Nigeria Leon Balogun pada matchday terakhir Grup D Piala Dunia 2018 di Stadion St Petersburg, Selasa (26/6). Argentina meraih tiket ke 16 besar setelah menang 2-1. (AP/Dmitri Lovetsky)
Pemain timnas Argentina, Gonzalo Higuain berebut bola dengan pemain Nigeria Leon Balogun pada matchday terakhir Grup D Piala Dunia 2018 di Stadion St Petersburg, Selasa (26/6). Argentina meraih tiket ke 16 besar setelah menang 2-1. (AP/Dmitri Lovetsky)

Gonzalo Higuain adalah seorang veteran kawakan yang telah menghiasi berbagai klub di dunia sepak bola. Striker Argentina itu dikaitkan dengan klub-klub besar Liga Inggris selama waktunya di Real Madrid sebelum akhirnya pindah ke Napoli, di mana ia mengambil alih Serie A dengan 90 gol dalam tiga musim.

Higuain memulai karier Eropanya di Real Madrid. Dia mengemas lebih dari 100 gol liga selama enam musim sebelum dikirim ke Napoli.

Bersama Napoli, ia semakin membuktikan dirinya sebagai striker terkemuka di dunia. sepak bola. Dia juga pernah berkostum Juventus, meski harus melakoni sebagai pemain pinjaman di AC Milan dan Chelsea.

 

Level Karier

Pada level karier internasional, Higuain mendulang 31 gol dalam 75 pertandingan di berbagai turnamen penting. Ayahnya, Jorge Higuain, adalah seorang full-back yang terkenal karena mencetak banyak gol.

Meskipun ia menikmati banyak klub Argentina seperti Boca Juniors, River Plate, dan bahkan untuk klub Ligue 1 Prancis Stade Brestois 29, Jorge tidak pernah tampil untuk tim nasional.

 

Frank Lampard and Frank Lampard Sr

Frank Lampard (AFP/Glyn Kirk)
Frank Lampard (AFP/Glyn Kirk)

Frank Lampard adalah legenda Chelsea yang telah membuat lebih dari 600 penampilan untuk klub dan mencetak 273 gol. Lampard mengukir sejarah untuk dirinya sendiri sebagai gelandang box-to-box modern dan akan dianggap sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah bermain untuk Inggris.

Lampard memenangkan tiga gelar Liga Inggris, beberapa trofi domestik, dan satu gelar Liga Champions selama bertugas di Chelsea. Publik Stamford Bridge sangat mencintainya.

Namun, sebelum Chelsea, Lampard memulai kariernya beberapa mil jauhnya di West Ham, di mana ia menghabiskan tujuh tahun sebelum pindah ke Stamford Bridge. Pendukung West Ham tidak menyukai Frank Lampard.

 

Cinta Ayah

Mereka lebih mencintai ayahnya, Frank Lampard Sr, yang telah membuat lebih dari 600 penampilan untuk klub. Dia melakukan debut untuk klub London Timur pada usia 19 pada bulan November 1967 dan segera memantapkan dirinya sebagai bek kiri pilihan pertama untuk The Hammers.

Namun, tidak seperti putranya, Lampard Sr hanya berhasil mengumpulkan dua caps untuk Inggris. Satu di antaranya saat melawan Yugoslavia pada tahun 1972.

 

Paolo Maldini dan Cesare Maldini

Paolo Maldini (kanan) menghabiskan seluruh kariernya di AC Milan. Selama 901 penampilannya, Maldini telah mempersembahkan banyak gelar bergengsi untuk Rossoneri, termasuk Liga Champions dan Liga Italia. Namun, ia tak pernah merasakan satupun gelar saat berseragam Timnas Italia. (AFP/Boris Horvat)
Paolo Maldini (kanan) menghabiskan seluruh kariernya di AC Milan. Selama 901 penampilannya, Maldini telah mempersembahkan banyak gelar bergengsi untuk Rossoneri, termasuk Liga Champions dan Liga Italia. Namun, ia tak pernah merasakan satupun gelar saat berseragam Timnas Italia. (AFP/Boris Horvat)

Paolo Maldini tercatat dalam sejarah sebagai bek terhebat yang pernah menghiasi permainan. Dalam karier selama lebih dari 25 tahun, mantan kapten Italia ini telah memenangkan 26 trofi, termasuk lima gelar Liga Champions.

Fakta menarik, pada 28 Mei 2003, Paolo Maldini menjadi kapten AC Milan saat menjuarai Liga Champions. Saat itu mereka mengalahkan Juventus melalui adu penalti.

Ayahnya, Cesare Maldini, juga mengangkat Piala Eropa sebagai kapten AC Milan pada tanggal yang sama hampir 40 tahun sebelum sang putra melakukannya.

 

Legenda Milan

Seperti sang anak, Cesare menjadi kapten AC Milan selama lebih dari 12 tahun sebelum pindah ke Torino pada tahun 1966. Selama waktu itu ia memenangkan empat gelar Liga dan satu trofi Liga Champions.

Dia dianggap sebagai legenda Milan, seperti putranya. Namun, Paolo benar-benar telah melampaui warisannya dan merupakan salah satu legenda sepanjang masa.

Sumber: sportskeeda

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel