Jelang PPKM Darurat, Pahami Cara Sehat Isolasi Mandiri di Rumah

·Bacaan 2 menit

VIVA – Meningkatnya kasus terkonfirmasi COVID-19 hingga saat ini membuat pemerintah mengambil kebijakan agar pasien COVID-19 tanpa gejala atau yang bergejala ringan melakukan perawatan isolasi mandiri.

Terlebih, pemerintah juga akan segera menerapkan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali.

Untuk mengurangi beban rumah sakit yang diprioritaskan dalam merawat pasien bergejala sedang dan berat yang perlu perawatan intensif. Serta mencegah aktivitas di luar rumah, maka masyarakat perlu memahami cara sehat isolasi mandiri di rumah.

Namun, apa syarat untuk bisa isolasi mandiri?

dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD (K-Psi), Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Konsultan Penyakit Dalam Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet menyebutkan saat ini tenaga kesehatan yang ada di RSDC Wisma Atlet, kelelahan akibat banyaknya pasien yang mesti ditangani.

Maka, bagi pasien bergejala ringan, sebaiknya menjalani isolasi mandiri.

“Perlu rencana mitigasi untuk menjaga masyarakat tidak jatuh sakit. Apabila masyarakat tidak sakit, maka kapasitas rumah sakit tidak akan penuh sehingga tenaga kesehatan kita tidak kelelahan merawat pasien,” terangnya dalam Dialog Produktif yang diselenggarakan KPCPEN, beberapa waktu lalu.

Berikut cara sehat isolasi mandiri di rumah.

Terkait dengan isolasi mandiri, dr. Andi menyatakan masyarakat perlu mengetahui kiat-kiat isolasi mandiri yang benar agar kesehatannya cepat pulih.

Dia menjelaskan bahwa saat melakukan isolasi mandiri di rumah, pertama-tama pasien harus memakai masker. Kedua, kamar harus terpisah dan pastikan jendela kamar isolasi mandiri pasien terbuka.

dr. Andi juga menekankan bagi pasien yang menjalani isolasi mandiri harus menjaga makanan dengan gizi seimbang.

“Kalau di rumah sakit, ada dokter dan perawat yang mendukung. Saat di rumah, keluarga harus menjadi pendukung agar selera makan pasien tetap terjaga,” sarannya.

Sebisa mungkin, lanjut dr. Andi, bagi pasien yang isolasi mandiri agar tidak mendiagnosis diri sendiri, kalau memungkinkan harus terus berkonsultasi dengan dokter. Apabila ada gejala yang sangat semakin dirasa berat, perlu untuk menghubungi dokter.

Menurut dr. Andi, masyarakat jangan terlalu fokus dalam menyalahkan adanya varian COVID-19. Selain itu, saat vaksinasi belum mencapai target demi meraih herd immunity, maka protokol kesehatan tak boleh kendor.

“Kunci dari pencegahannya adalah masker. Masker dua lapis menurut penelitian Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dikatakan mampu meningkatkan proteksi dari 60-80 persen menjadi 90 persen,” ucapnya..

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel