Jelang Ramadan, Makam Syaikhona Kholil Bangkalan Ramai Peziarah

Lis Yuliawati, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVAMakam ulama kharismatik di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Syaikhona Kholil bin Abdul Latif, ramai dikunjungi peziarah pada Rabu, 7 April 2021. Jumlah peziarah diperkirakan makin banyak mendekati bulan suci Ramadan.

Makam guru banyak ulama besar di Nusantara itu terletak di Desa Martajesah, Kabupaten Bangkalan. Jika dari Kota Surabaya menuju ke sana lebih dekat melalui Pelabuhan Tanjung Perak-Kamal dengan menggunakan kapal penyeberangan daripada berputar lewat Jembatan Suramadu. Sebab, lokasi makam tak jauh dari kota.

VIVA tiba di Makam Syaikhona Kholil pada Rabu malam sekira pukul 19.00 WIB. Satu lapangan parkir penuh dengan kendaraan roda empat dan bus yang membawa peziarah. Sementara di lapangan parkir satunya lagi tampak kosong. Hal itu kemungkinan karena masih pandemi sehingga tak seramai hari-hari normal.

Namun, makin malam rombongan peziarah kian banyak yang datang. Tempat pesarean Syaikhona Kholil yang berada di sisi kanan masjid juga makin ramai didatangi pengunjung. Mereka bertawassul mendoakan Syaikhona Kholil. Terlihat khusyuk. Ada yang bertahlil dan berdoa secara berjamaah, ada pula yang sendiri-sendiri.

Para peziarah tak hanya datang dari Bangkalan atau kabupaten lain di Madura. Tapi juga dari luar wilayah tersebut. Hal itu VIVA ketahui dari percakapan sebagian jemaah yang menggunakan bahasa Jawa. Ada pula yang bercakap-cakap dengan logat Sunda.

Ramainya peziarah membawa berkah bagi para pengelola warung makan dan oleh-oleh. Maklum, pandemi COVID-19 sejak tahun lalu membuat jumlah peziarah berkurang. Artinya pengunjung warung-warung kuliner dan oleh-oleh sepi. "Sebulan terakhir ini mulai ramai. Karena mau puasa mungkin," kata Ahmad, pemilik salah satu warung di sekitar makam.

Syaikhona Kholil Bangkalan lahir pada Desember tahun 1820 dan meninggal pada Desember 1925. Ia dikenal sebagai guru para ulama besar di Nusantara. Murid-muridnya di antaranya, pendiri Nahdlatul Ulama Rais Akbar KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Ahmad Syamsul Arifin, dan sejumlah ulama lain di Jawa dan luar Jawa.

Sebulan terakhir nama Syaikhona Kholil mengemuka karena diwacanakan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Perannya dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia melalui pendidikan pesantren dinilai besar.

Sejumlah partai politik, di antaranya Golkar, Nasdem, dan PKB, sudah melaksanakan diskusi dan seminar soal itu, mengkaji secara akademik sebagai syarat administrasi pengusulan gelar pahlawan nasional untuk Syaikhona Kholil.