Jelang Ramadhan, Arab Saudi Kesulitan Rekrut PRT

Jelang Ramadhan, Arab Saudi Kesulitan Rekrut PRT


TRIBUNNEWS.COM, JEDDAH - Pejabat Pemerintah Arab Saudi menyarankan kepada warganya yang memiliki pembantu rumah tangga, diharapkan untuk menunda mengakhiri kontrak kerja dengan pembantunya. Hal ini memperhatikan kesulitan untuk mencari penggantinya setelah Kerajaan Arab Saudi memutuskan sejak tanggal 02 Juli 2011 menghentikan mengeluarkan visa kerja untuk pembantu rumah tangga dari Indonesia dan Philipine.

Menjelang bulan suci Ramadhan, permintaan pembantu rumah tangga di Arab Saudi meningkat. Hal ini menjadi peluang bagi pekerja rumah tangga untuk melarikan diri dan mencari pekerjaan lain dengan gaji yang lebih tinggi. Seperti halnya saat ini pembantu rumah tangga sudah mulai menuntut gaji berdasarkan jam, bukan dengan sistim bulanan.

Ali Al Qurahy anggota Komite Rekrutmen Asing di Kamar Dagang dan Industri Jeddah (JCCI) mengatakan kepada Koran harian Arab bahwa ia tidak mengetahui pembantu rumah tangga gelap berkembang. Tetapi ia mengakui mengalami kesulitan untuk membawa pembantu rumah tangga dari beberapa negara sebelum bulan suci Ramadhan tiba karena tidak tersedinya kursi pada penerbangan ke Arab Saudi.

"Kami menghadapi kesulitan untuk membawa pembantu rumah tangga dari beberapa negara ke Arab Saudi sebelum bulan suci Ramadhan," kata Al-Qurahy, yang berada di Adis Ababa untuk merekrut pembantu rumah tangga.

Ada sekitar 1,5 juta orang Indonesia bekerja di Arab Saudi, yang kebanyakan adalah perempuan yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Dan 180 ribu orang Filipina bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan sopir di Arab Saudi.