Jenderal Bintang 4 Pentolan TNI Ternyata Anak Pak Mantri

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Biasanya, seorang bocah laki-laki akan meminta mainan sebagai hadiah yang diinginkannya. Namun demikian tidak untuk sosok ini. Sejak kecil, pria yang kelak menjadi Panglima TNI sudah meminta hadiah helm baja tentara. Siapakah dia?

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, sosok ini lahir di sebuah desa kecil di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 4 April 1947. Seperti yang disebutkan tadi, sejak kecil sosok ini sudah menunjukkan keberanian dan keinginannya untuk menjadi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ya, sosok itu adalah Jenderal TNI (Purn.) Wiranto.

Jauh sebelum menduduki posisi sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan keamanan (Menkopolhukam) di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Wiranto lebih dulu menghabiskan 33 tahun masa hidupnya sebagai prajurit TNI Angkatan Darat.

Siapa sangka, lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, Wiranto justru tampil sebagai sosok pemimpin dan prajurit berjiwa patriotik. Ayah Wiranto adalah R.S. Wirowijoto yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar (SD), yang dikenal sebagai Pak Mantri.

Menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) 1968, Wiranto tercatat memiliki karier yang mengkilap. Bisa dibilang, karier Wiranto melesat setelah ia dipercaya menjadi Ajudah Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2, Jenderal Besar TNI (Purn.) Soeharto. Wiranto ditunjuk menjadi ajudan Soeharto saat pangkatnya masih Kolonel TNI, periode 1989 hingga 1993.

Wiranto pecah bintang pada 1993. Usai menyelesaikan tugasnya sebagai ajudan presiden, Wiranto naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI dengan jabatan sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) Jayakarta/Jaya.

Setahun berselang, Wiranto kembali mendapatkan kenaikan pangkat menjadi bintang dua atau Mayor Jenderal (Mayjen) TNI dengan posisi sebagai Panglima Kodam (Pangdam) Jaya.

Menghabiskan waktu sekitar dua tahun sebagai orang nomor satu di komando teritorial ibukota DKI Jakarta dan sekitarnya, karier Wiranto semakin meroket. Pada 1996, Wiranto ditunjuk menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) dengan pangkat Letnan Jenderal (Letjen) TNI.

Menggantikan posisi Mayjen TNI Tarub, Wiranto tak sampai satu tahun menduduki kursi Pangkostrad. Pangkatnya naik menjadi jenderal bintang empat atau Jenderal TNI, dan diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad), menggantikan posisi Jenderal TNI Raden Hartono pada 7 Juni 1997.

Wiranto pun mencapai puncak kariernya di dunia militer saat didapuk menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), pada 16 Februari 1998. Wiranto menggantikan posisi Jenderal TNI Feisal Tanjung, yang memasuki masa pensiun dan menjabat hingga 26 Oktober 1999.

Di era kepemimpinannnya, Wiranto sempat menghadapi gelombang demonstrasi besar-besaran mahasiswa dan kerusuhan pada 1998. Situasi politik Indonesia yang tidak menentu saat itu, tak membuat Wiranto haus kekuasaan pasca Soeharto mundur dari posisinya sebagai Presiden RI.

Wiranto sebenarnya bisa saja mengambil alih kekuasaan, sesuai dengan Instruksi Presiden No.16 Tahun 1998. Namun demikian, Wiranto bukanlah orang yang suka mengambil keuntungan dalam situasi darurat hanya sekedar untuk mengikuti nafsu berkuasa.

"Memahami situasi yang berkembang dan aspirasi masyarakat, ABRI mendukung dan menyambut baik permintaan berhenti bapak Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Serta berdasarkan konstitusi, mendukung Wakil Presiden bapak B.J. Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia," bunyi pernyataan Wiranto saat itu.

"Pada situasi seperti ini, saya memilih untuk tidak masuk dalam rivalitas calon Presiden ataupun calon Wakil Presiden. Posisi politik yang terbuka untuk saya, akan saya laksanakan apabila rakyat benar-benar membutuhkan," katanya.