Jenderal Gatot Ngamuk dan Bongkar Sosok Pengkhianat TNI

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sebagai mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo dikenal sebagai sosok yang tegas dan berani. Dengan berapi-api, jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1982 ini pernah mengungkap sosok yang dianggap pengkhianat TNI.

Lewat pantauan VIVA Militer dari akun Youtube resmi Letjen TNI (Purn.) Edy Rahmayadi, Gatot dengan berapi-api pernah mengingatkan pentingnya sikap seorang anggota TNI dalam hal menjaga netralitas politik. Hal ini diucapkan Gatot jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Utara 2018 lalu.

Gatot dengan tegas mengingatkan kepada para pimpinan TNI di wilayah Sumatera Utara untuk tidak coba-coba mengorbankan anak buahnya, hanya untuk ambisi pribadi.

Dengan berani juga Gatot menyebut, siapa pun anggota TNI yang dengan sadar membela salah satu pihak adalah pengkhianat dan pelacur politik.

"Saya sebagai orang yang lebih tua dari semua prajurit TNI, TNI harus netral. Panglima TNI mengatakan netral. Jadi kalau ada pimpinan-pimpinan TNI di wilayah ini, ada pimpinan-pimpinan TNI di wilayah ini yang mengajak tidak netral, membantu salah satu, itu adalah pengkhianat!" tegas Gatot.

"Itu adalah pengkhianat, itu adalah pelacur politik, itu adalah penjual TNI untuk kepentingan pribadi. Dan pemimpin-pemimpin seperti ini suatu saat rela mengorbankan nyawa anak buahnya untuk kepentingan pribadi," kata pria yang juga pernah menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) itu.

Apa yang dikatakan Gatot dengan lantang ini sepenuhnya benar. Sebab dalam Pasal 39 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, disebutkan bahwa setiap prajurit TNI dilarang terlibat dalam kegiatan menjadi anggota partai politik.

Tak hanya itu, setiap prajurit TNI juga dilarang terlibat dalam kegiatan politik praktis, serta dilarang terlibat dalam kegiatan untuk dipilih menjadi anggota legislatif dalam pemilihan umum dan jabatan politis lainnya.