Jenderal Hendropriyono: Prajurit Kopassus yang Penakut Salah Kamar!

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bagi para pemuda yang punya cita-cita untuk menjadi seorang anggot Komando Pasukan Khusus (Kopassus), percaya lah. Perlu kerja keras dan kesiapan baik dari segi fisik maupun mental, agar bisa menjadi bagian dari Korps Baret Merah milik TNI Angkatan Darat.

Sejak berdiri pada 16 April 1952, Kopassus menjadi bagian penting dari perjuangan bangsa Indonesia. Sebagai salah satu satuan elite di jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kopassus punya cara tersendiri untuk merekrut para calon anggotanya.

Dengan seleksi yang sangat ketat dan pendidikan berat, Kopassus mempunyai individu personel yang sangat terlatih. Keberhasilan anggota Kopassus dalam menjalankan sejumlah misi, tak hanya membuat bangga rakyat Indonesia. Namun juga, sejumlah negara besar semisal Amerika Serikat (AS) dan Inggris, mengakui kemampuan tempur dan intelijen Kopassus.

Dalam sebuah wawancara yang dilansir VIVA Militer dari tvOne, Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI (HOR) Abdullah Mahmud Hendropriyono, menitik beratkan kemampuan inti yang dimiliki setiap anggota Kopassus.

Hendropriyono yang juga adalah mantan anggota Kopassus, memastikan bahwa setiap anggota Korps Baret Merah memiliki mental yang kuat, fisik prima, serta kemampuan membuat strategi operasional yang bersifat khusus.

"Hal-hal yang pertama harus diakui adalah masalah mental. Yang kedua fisik dan kemudian berikutnya adalah strategi atau taktik-taktik operasional, yang khusus sifatnya," ucap Hendropriyono.

Lebih lanjut Hendropriyono juga menjelaskan, ada dua unsur utama dalam satuan Kopassus. Yang pertama adalah pasukan Para Komando, yang memang disiapkan khusus untuk melakukan pertempuran secara terbuka.

Selain itu, ada pula unit Sandhi Yudha yang saat ini masuk dalam Grup 3/Sandhi Yudha Kopassus, yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan operasi intelijen strategis. Khusus untuk unit ini, setiap anggota Sandhi Yudha diharuskan mampu bergerak di dalam wilayah dan bahkan jauh di garis belakang musuh.

Dengan pendidikan dan latihan yang berat, para prajurit Kopassus jelas memiliki mental sekuat baja. Oleh sebab itu, Hendropriyono menyatakan jika ada prajurit Kopassus yang penakut, maka tempatnya bukan lah di satuan itu.

"Kopassus ini terdiri dari Para Komando dan Sandhi Yudha. Para Komando itu terbuka, melakukan raid (penyergapan), melakukan penyerangan terbuka. Kalau Sandhi Yudha itu melakukan operasi intelijen strategis. Tetapi, mereka juga harus siap melakukan operasi fisik militer. Jauh di dalam dan di garis belakang musuh," kata Hendropriyono melanjutkan.

"Yang paling penting di sini adalah masalah pendidikan moral, itu yang ditekankan. Sehingga kalau ada prajurit Kopassus yang penakut itu salah tempat, salah kamar," ujar mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya/Jayakarta itu.