Jenderal Idham, Eks Kapolri yang 2 Kali Tak Lolos Masuk Akpol

Siti Ruqoyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Siapa yang tak kenal Jenderal (Purn) Idham Azis. Dia adalah mantan Kapolri yang baru pensiun awal tahun 2021. Jabatannya digantikan oleh Kapolri sekarang yakni Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Banyak cerita hidup menarik yang pernah dialaminya sebelum bergabung di Korps Bhayangkara, apa saja? Dikutip VIVA dari berbagai sumber, Rabu 7 April 2021, Idham ternyata pernah dua kali tidak lolos saat masuk Akabri yang sekarang disebut Akpol atau Akademi Kepolisian.

Ceritanya begini, usai Idham menyelesaikan pendidikan di SMA 1 Kendari pada tahun 1982, dia kemudian mencoba mengikuti tes masuk Akabri, tetapi tidak lolos. Sembari menunggu tes yang akan digelar tahun berikutnya, Idham masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo.

Pada kesempatan berikutnya, dia kembali mencoba tetapi gagal lagi. Namun, saat daftar untuk ketiga kalinya yakni tahun 1988, Idham akhirnya diterima masuk dan menjadi bagian dari Akabri Kepolisian A angkatan 1988.

Pria kelahiran di Kendari, Sulawesi Tenggara pada tanggal 30 Januari 1963 sebagai putra dari pasangan Abdul Azis Halik dan Tuti Pertiwi ini dikenal di kalangan kepolisian sebagai sosok yang tegas namun santai.

Tak cuma Idham, salah staun anaknya yang bernama Irfan Urane Azis juga menjadi anggota kepolisian. Irfan masuk Akpol tahun 2019.

Karier moncer

Idham termasuk polisi yang beruntung. Kariernya meroket setelah dia masuk dalam markas reserse yakni Bareskrim Polri. Karier dia tercatat mulus saat melumpuhkan teroris Dr. Azahari dan kelompoknya di Batu, Jawa Timur, pada tanggal 9 November 2005.

Idham menjadi salah satu polisi yang mendapat penghargaan dari Kapolri saat itu, Jenderal Sutanto, bersama dengan para kompatriotnya, Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel, dan kawan-kawan.

Pada malam tanggal 10 November 2005, Brigjen. Pol. Surya Dharma memanggil dan memerintahkan Idham untuk berangkat ke Poso. Keesokan harinya, Idham terbang dari Surabaya menuju Palu dan tiba di Poso pada sore harinya untuk langsung bergabung dengan Tito Karnavian yang sudah berada di sana.

Tito memintanya untuk menjadi wakilnya dalam kasus investigasi mutilasi tiga gadis SMA Kristen yang terjadi di Poso. Per tanggal 12 November 2005, Idham resmi menjadi Wakil Ketua Satgas Bareskrim Poso, mendampingi Tito Karnavian.

Idham menggantikan Brigjen Pol. Ari Dono Sukmanto sebagai Kapolda Sulawesi Tengah sejak tanggal 3 Oktober 2014. Jabatan tersebut diembannya hingga tanggal 1 Maret 2016, ketika dirinya digantikan oleh Brigjen Pol. Rudy Sufahriadi.

Idham kemudian dimutasi menjadi Inspektur Wilayah II Inspektorat Pengawasan Umum Polri. Pada tanggal 23 September 2016, Idham dilantik menjadi Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (Kadiv Propam), menggantikan Irjen. Pol. Mochamad Iriawan.

Idham dipilih karena pernah bertugas di daerah konflik, khususnya Poso. Idham kembali menggantikan posisi Iriawan sebagai Kapolda Metro Jaya pada tanggal 26 Juli 2017. Menurut Tito selaku Kapolri, Idham dipilih karena pernah lama bertugas di Polda Metro Jaya.

Idham ditunjuk sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) menggantikan Komjen. Pol. Arief Sulistyanto. Posisinya sebagai Kapolda Metro Jaya dilanjutkan oleh Irjen. Pol. Gatot Eddy Pramono. Idham dilantik sebagai Kabareskrim pada tanggal 28 Januari 2019.

Pada tanggal 23 Oktober, Presiden Joko Widodo mengusulkan nama Idham sebagai calon tunggal Kapolri untuk menggantikan Tito Karnavian yang diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri. Pada tanggal 30 Oktober, Komisi III DPR-RI yang dipimpin oleh Herman Hery menggelar uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap Idham. Rapat pleno Komisi III memutuskan bahwa mereka menyetujui pencalonan Idham secara aklamasi.

Keputusan ini disahkan oleh Puan Maharani selaku Ketua DPR-RI dalam sidang paripurna yang digelar sehari setelahnya. Presiden Jokowi resmi melantik Idham sebagai Kapolri pada tanggal 1 November 2019.


Baca juga: Abuya Uci, Dicintai Umat hingga Sahabat Gus Dur dan Habib Luthf