Jenderal Intelijen Berdarah Kopassus TNI Ungkap Fakta Pasukan Taliban

·Bacaan 1 menit

VIVA – Keberhasilan pasukan Taliban merebut kekuasaan Republik Islam Afghanistan ternyata mendapat sorotan khusus dari tokoh militer Indonesia, Jenderal TNI (Purnawirawan) Abdul Mahmud Hendropriyono.

Dilansir VIVA Militer Rabu 18 Agustus 2021 dari akun pribadi sang pakar intelijen berdarah Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dibahas beberapa fakta terutama tentang dengan sangat mudahnya Taliban merebut wilayah Ibukota Kabul, tanpa perlawanan dari Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (ANDSF).

Menurut mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) keberhasilan Taliban menguasai Kabul dengan cara sangat mudah patut dicermati lebih jauh dan dalam.

"Kenapa tidak ada perlawanan dan upaya dari tentara Afghanistan untuk mempertahankan diri?," tulis Jenderal TNI Hendro.

Bagi Jenderal TNI Hendro, sebaiknya semua pihak mencermati pernyataan mantan Kepala Staf Angkatan Darat Afghanistan, Jenderal Asyraf Dhiya, dua bulan sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban atau sekitar Juni 2021.

"Kejadian yang terjadi bukan perebutan kekuasaan akan tetapi pada penyerahan kekuasaan, sesuai dengan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Taliban di Doha Qatar pada Februari 2020," tulis Jenderal TNI Hendro.

Selain itu, Kabul dengan mudah dikuasai karena memang mayoritas penduduk di kota bersejarah itu berasal dari suku Pusthun, basis kekuatan massa utama pasukan Taliban.

"Peran kesukuan ini sangat penting sehingga dalam beberapa kasus, pergerakan Taliban dalam menguasai berbagai provinsi tidak mendapatkan perlawanan,"tulis Jenderal TNI Hendro.

Dengan fakta-fakta ini, kaum intoleran yang bercokol di seluruh dunia termasuk Indonesia jangan berbangga diri atas peristiwa bersejarah yang terjadi di Afghanistan itu.

Baca: Tragedi Pilu di Langit Afghanistan, 2 Warga Jatuh dari Pesawat Amerika

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel