Jenderal Kopassus Terabas Cuaca Ekstrim Demi Korban Banjir Flores

Rifki Arsilan
·Bacaan 3 menit

VIVA – Indonesia kembali dirudung duka. Pada Minggu, 4 April sekitar pukul 01.00 dini hari lalu sejumlah pemukiman warga di Flores Timur disapu banjir bandang akibat cuaca ekstrim. Atas musibah itu, data sementara BNPB menyatakan setidaknya 44 orang dikabarkan meninggal dunia, sekitar 20 orang masih hilang, dan ratusan bangunan rusak, bahkan tidak sedikit yang hilang akibat tersapu banjir yang bercampur dengan material tanah hingga batang pohon itu.

Situasi itu tidak menyurutkan Jenderal Bintang Tiga dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Letjen TNI Doni Monardo untuk bergerak cepat membantu para korban di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Letjen TNI Doni Monardo yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nasional langsung bergerak menuju ke lokasi. Padahal, Letjen TNI Doni baru saja melaksanakan rangkaian kerja ke sejumlah daerah terkait kebencanaan dan penanganan Covid. Sejak hari Selasa, 30 Maret 2021 hingga Sabtu, 3 April lalu.

“Mulai dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, berlanjut ke Mamuju, dan Palu. Esok harinya menuju Surabaya, lalu Bali. Sabtu kembali ke Jakarta, Minggu malam stand by di Halim untuk bertolak meninjau banjir bandang di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT,” kata Tenaga Ahli BNPB, Egy Massadiah dalam keterangan resminya, Senin, 5 April 2021.

Bahkan, lanjut Egy, meski cuaca ekstrim menghambat penerbangannya menuju NTT, mantan Danjen Kopassus itu memutuskan untuk tetap standby di Bandara Halim Perdanakusuma pada Minggu malam menunggu cuaca normal untuk menuju ke Maumere, NTT.

Pagi tadi, Letjen TNI Doni Monardo tiba di Bandara Maumere, NTT. Dia merencanakan melanjutkan penerbangan ke Larantuka untuk sampai ke titik lokasi bencana. Namun, lagi-lagi kondisi cuaca tidak mendukungnya.

Kendati demikian, hal itu sama sekali tidak menyurutkan langkah Jenderal TNI bintang tiga Kopassus itu untuk bergerak memberikan bantuan kepada para korban yang sudah menunggu pertolongan dari pemerintah.

Letjen TNI Doni juga sempat mengumpulkan sejumlah pejabat pemerintah dan BPBD NTT di Bandara Maumere untuk memberikan pertolongan kepada para korban banjir bandang di Larantuka.

Dalam rapat penanganan korban banjir bandang di Flores Timur itu, orang nomor satu di BNPB langsung menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk bergerak cepat mendistribusikan bantuan kepada para korban banjir bandang di Flores Timur.

Kemudian, Letjen TNI Doni pun memutuskan untuk menempuh perjalanan melalui jalur darat menuju Laratuka. Estimasi perjalanan diperkirakan tiga sampai lima jam sampai ke lokasi banjir bandang yang menewaskan 44 orang itu, dan akan menghadapi cuaca ekstrim ketika akan menyeberang laut menuju Pulau Adonara.

"Penyeberangan akan melihat situasi apakah masih bisa menyeberang hari atau tidak, kalau tidak maka kami akan menunggu sampai cuaca bagus,” kata Letjen TNI Doni Monardo dalam keterangan resminya.

Kendati demikian, Jenderal Kopassus itu tetap nekat akan menemui para korban bencana banjir bandang di Larantuka secara langsung. Doni juga membawa sejumlah bantuan untuk membantu para korban terdampak banjir bandang, diantaranya, makanan siap saji sebanyak 1.002 paket, makanan tambahan gizi 1.002 paket, makanan lauk pauk 1.002 paket, selimut 3.000 lembar, sarung 2.000 lembar, alat tes cepat antigen 10.000 unit, masker kain 1.000 lembar dan masker medis 1.000 lembar.

“Bersama dengan pesawat juga ada barang-barang logistik yang dibutuhkan seperti selimut, makanan siap saji hingga obat-obatan,” ujarnya.

Sebagaimana informasi yang telah disampaikan sebelumnya, Informasi sementara, bencana banjir bandang yang terjadi di Flores Timur telah memakan korban sebanyak 44 orang meninggal dunia, 26 orang hilang, 9 orang luka-luka, 80 KK terdampak dan 256 jiwa mengungsi di Balai Desa Nelemawangi.

Kemudian kerugian materiil yang dilaporkan meliputi 17 unit rumah hanyut, 60 unit rumah terendam lumpur, 5 jembatan putus, puluhan rumah terendam banjir di Kecamatan Adonara Barat dan ruas jalan Waiwadan-Danibao dan Numindanibao terputus di empat titik. Data jumlah korban dan kerusakan tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah, mengingat masih terbatasnya sarana dan prasarana menuju lokasi bencana tersebut.

Baca: Pasukan Garuda TNI Berhasil Dapatkan Senjata Pemberontak Kongo