Jenderal Ohanyan Sekarat Kena Serangan Dahsyat Militer Azerbaijan

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVAAzerbaijan mengklaim, serangan ke kota Shushi telah membuat seorang perwira tinggi Angkatan Bersenjata Armenia terluka parah. Korban luka parah yang dimaksud Azerbaijan adalah Kolonel Jenderal Seyran Ohanyan, mantan Menteri Pertahanan Armenia.

Pertempuran dahsyat antara pasukan Angkatan Bersenjata Armenia yang didukung tentara pemberontak Pasukan Pertahanan Artsakh (Nagorno-Karabakh), melawan pasukan Angkatan Bersenjata Armenia, kembali pecah di Shushi, Sabtu 7 November 2020. Serangan roket dan peluru artileri militer Azerbaijan diarahkan ke sejumlah titik di kota Shushi, yang merupakan wilayah vital bagi Republik Nagorno-Karabakh.

Serangan itu diyakini Azerbaijan telah membuat Ohanyan luka parah. Ohanyan sendiri adalah mantan Panglima Angkatan Bersenjata Armenia, yang juga pernah menduduki posisi Menteri Pertahanan Republik Nagorno-Karabakh.

Akan tetapi, kabar yang disebar oleh Azerbaijan terkait jatuhnya Ohanyan sebagai korban luka dalam perang dibantah oleh Armenia. Juru bicara Kepresidenan Republik Nagorno-Karabakh, Vahram Poghosyan, menuduh Azerbaijan menyebar berita bohong.

Menurut Poghosyan, Azerbaijan sengaja mempublikasikan informasi palsu tentang Ohanyan. Karena, Ohayanyan adalah sosok di balik keberhasilan pasukan militer Armenia dan Artsakh mempertahankan kota Shushi. Poghosyan memastikan, Ohanyan dalam keadaan sehat dan masih melaksanakan tugasnya dalam pertempuran.

"Tentu saja, musuh memiliki alasan dalam menyuarakannya. Karena, pelajaran rutin yang diterima dari Jenderal Ohanyan sangat meyakinkan dan saya yakin mereka akan mendapatkan lebih banyak. Karena dia (Ohanyan) selamat dan sehat, serta sepenuhnya melaksanakan tugas yang dipercayakan," ujar Poghosyan dikutip VIVA Militer dari Armenpress.

Perang Armenia-Azerbaijan kembali meletus pada 27 September 2020 dan berlangsung hingga hari ini. Akibat perang di Nagorno-Karabakh, ribuan personel militer Armenia dan Azerbaijan tewas dan terluka. Warga sipil juga tak luput dari kecamuk perang, dan diperkirakan sudah ratusan orang yang mati selama lebih dari sebulan pertenpuran berlangsung.