Jenderal Osman: Tentara Armenia Perang Cuma Pakai Senjata Bekas

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sejumlah pihak meyakini pasukan Angkatan Bersenjata Armenia sudah kalah dalam perang. Sejak pertempuran meletus pada 27 September 2020, armada tempur Angkatan Bersenjata Azerbaijan sudah membebaskan puluhan desa di sejumlah distrik Nagorno-Karabakh (Artsakh), dari pendudukan militer Armenia.

Menurut laporan yang dikutip VIVA Militer dari Trend.az, perwira tinggi Angkatan Bersenjata Turki (TSK), Brigadir Jenderal Osman Gazi Kandemir, Armenia sudah sangat kewalahan menghadapi agresi militer Azerbaijan. Akan tetapi, Armenia belum mau menyatakan menyerah.

"Mereka dapat menyerahkan diri tanpa mengakuinya secara resmi, tetapi itu tidak penting," ujar Kandemir kepada Region Plus.

Keyakinan Kandemir tak lepas dari sistem persenjataan militer Armenia yang memang kalah jauh dari Azerbaijan. Kandemir tahu persis, senjata-senjata yang digunakan pasukan Armenia adalah bekas Tentara Merah Uni Soviet, yang dibuat di era Perang Dingin lebih dari 30 tahun lalu.

Dalam pandangannya, Armenia masih cukup beruntung ada negara luar yang masih mau memasok senjata. Akan tetapi, lama kelamaan takkan ada lagi negara yang mau menjual senjatanya ke Armenia lantaran dianggap tidak memiliki masa depan ekonomi.

"Sebagian besar senjata Armenia adalah sisa-sisa sistem tentara (Uni) Soviet pada Perang Dingin. Beberapa dari cadangan ini bahkan tidak bisa digunakan di medan perang, dan tetap ada di gudang. Tetapi, kami melihat bahwa mereka memiliki sejumlah besar rudal," kata Kandemir melanjutkan.

"Secara alami, tidak masuk akal untuk terus memasok senjata ke negara yang tidak lagi memiliki masa depan ekonomi," ucapnya.