Pengakuan Mengejutkan Jenderal Pentolan Penjaga Megawati dan SBY

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Perlu diingat bahwa satuan elite milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukan hanya Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Korps Marinir saja. Namun demikian, perjalanan perjuangan bangsa Indonesia juga tak bisa lepas dari peran satuan elite milik TNI Angkatan Udara, Korps Pasukan Khas (Paskhas).

Dikutip VIVA Militer dari situs resmi Korps Paskhas, salah satu Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Udara yang pernah menjadi pentolan Korps Baret Jingga adalah Marsekal Muda (Marsda) TNI Mujahidin Harpin Ondeh.

Jebolan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1981 ini dikenal sebagai sosok yang sangat tegas. Wajar saja, Harpin menghabiskan waktu 18 tahun bertugas di satuan elite TNI Angkatan Udara itu. Dengan segudang pengalaman, Harpin pun dipercaya untuk menduduki posisi sebagai Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden periode 2001 hingga 2004.

Perlu diketahui, tugas Grup A Paspampres adalah elaksanakan pengamanan fisik langsung jarak dekat setiap saat terhadap Presiden beserta keluarganya. Itu berarti, anggota Grup A Paspampres memiliki tugas yang tidak mudah dan perlu prajurit berkemampuan khusus untuk melakukannya.

Sepanjang tugasnya saat menjadi Dangrup A Paspampres, Harpin sempat mengawal langsung Presiden Republik Indonesia (RI) ke-5, Megawati Soekarnoputri. Tak hanya Megawati, Harpin juga sempat mengawal Presiden RI ke-6, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Saat dipercaya menjadi Dangrup A Paspampres, Harpin masih berpangkat Kolonel Psk (Paskhas). Siapa sangka, diungkap Harpin ia justru dianggap sombong oleh rekan-rekannya di TNI Angkatan Udara. Anggapan ini tak lepas dari sikap pria kelahiran Gorontalo 10 November 1956 yang sangat tegas.

"Ini lah saya, kalau sudah bertugas ya begini. Ini mungkin dulu, waktu saya mengawal Presiden Megawati, dilanjutkan saya mengawal Presiden SBY walaupun hanya enam bulan saya mendapat cap yang kurang simpatik mungkin dari saudara-saudara di TNI AU. Seoalah-olah saya sombong lah segala macam," ujar Harpin.

Harpin juga mengaku, ia adalah Dangrup A Paspampres yang mendapai kenaikan pangkat menjadi Pati TNI Angkatan Udara yang cukup lama. Pangkatnya sempat disalip oleh Mayjen TNI Agus Sutomo, yang didapuk menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus pada 15 Juni 2012.

Padahal, Agus notabene adalah Wakil Komandan Grup A Paspampres semasa Harpin menjadi pimpinannya. Baru pada 2009, Harpin mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Marsekal Pertama (Marsma) TNI dengan jabatan sebagai Wakil Komandan Korps Paskhas (Wadan Korps Paskhas).

"Sehingga mantan komandan grup pengawalan presiden yang paling lama dinaikkan Pati adalah saya. Saya naik Pati sesudah Komandan Jenderal Kopassus Agus Sutomo, yang wakil saya dulu jadi Danjen Kopassus. Saya baru menyusul sesudah dia, Alhamdulillah Tuhan tidak buta. Tuhan menghargai perjuangan, dan semangat juang," kata Harpin melanjutkan.

Sebagai seorang prajurit TNI, Harpin tentunya sangat memegang teguh Sumpah Prajurit, Sapta Marga, dan 8 Wajib TNI. Namun demikian, Harpin menegaskan bahwa saat menjalankan tugas bukan semata-mata hanya untuk atasan atau para seniornya.

Harpin memastikan bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk loyalitas dan rasa cintanya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Harpin juga menyatakan bahwa, tugas setiap anggota TNI adalah bersiap mati demi negara.

"Ini sudah saya tularkan kepada adik-adik, kita lurus ke depan, kita berjuang. Walaupun mungkin kakak-kakak kita tidak suka kepada kita, kita berjuang bukan untuk mereka. Kita berjuang loyal kepada bangsa dan negara. Kita tidak lihat siapa di atas, yang penting tugas kita adalah mati untuk negara," ujar Harpin.