Jenderal Perang Kopassus TNI Pernah Diledek: Kau Orang Kampung!

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Indonesia akan senantiasa mengenang jasa seorang perwira tinggi asal Tanah Batak, Letjen TNI (Purn.) Sintong Panjaitan. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), punya kisah unik saat ia mendapat perintah dari atasannya pada peristiwa G30S/PKI 1965.

VIVA Militer mengamati penuturan Sintong dalam sebuah video wawancara khusus yang diunggah di akun Youtube resmi Pusat Penerangan (Puspen) TNI. Kepada Kapten Laut (T) Syam, Sintong mengisahkan penyerbuan ke Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) dan menangkap seluruh prajurit yang terlibat dalam Gerakan 30 September 1965.

Dikatakan Sintong, ia mendapat instruksi langsung dari Danjen RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) atau yang saat ini bernama Kopassus, Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo, untuk mengamankan RRI.

Sintong mendapat perintah pada 1 Oktober 1965, pukul 18.00 di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), untuk merebut dan mengamankan Gedung RRI. Selain itu, ia juga harus menjemput Kepala Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat, Brigjen TNI Ibnu Subroto, untuk menyiarkan amanat Pangkostrad, Mayjen TNI Soeharto.

Saat itu, Sintong yang masih berpangkat Letnan Dua (Letda) TNI bergerak bersama Kompi RPKAD (saat ini Kopassus) di bawah pimpinan Letnan Satu (Lettu) Feisal Tanjung.

"Waktu itu diputuskan bahwa Kompi Tanjung siap merebut RRI. Setelah kami sampai di Markas Kostrad kami telah di-briefing, bahwa RRI dikuasai oleh pemberontak G30S/PKI. Makan dengan segera harus mengamankan, harus menangkap siapapun yang melawan operasi ini," ujar Sintong.

Kemudian, Sintong dan pasukannya berangkat menuju Gedung RRI sekitar pukul 18.30. Pria kelahiran Tarutung, 4 September 1940, mengakui bahwa ia melihat sejumlah prajurit yang tersusupi G30S/PKI melakukan penjagaan di sekitar Gedung RRI.

Dengan waktu singkat, Sintong dan pasukannya berhasil memukul mundur para prajurit yang terlibat pemberontakan dan menangkap mengamankan seluruh kru di Gedung RRI. Segera, Sintong melaporkan situasi terkini kepada Sarwo Edhie. Akan tetapi, laporan Sintong justru diragukan kebenarannya lantaran siaran G30S/PKI masih berjalan.

"Kami dengan segera melakukan penembakan, dan nampaknya mereka langsung mengundurkan diri. Setelah itu, setelah mereka melakukan pengunduran diri kami masuk ke dalam dan menangkap setiap orang yang ada situ termasuk kru yang ada di dalam." kata Sintong melanjutkan.

"Setelah menangkap semua kru yang ada di dalam, saya laporan ke Markas Komando, Pak Sarwo Edhie, bahwa RRI telah direbut. Tapi anehnya, waktu saya laporan ke Pak Sarwo Edhie, saya diminta 'Kau laporan yang benar!' Karena, siaran G30S itu masih mutar. Saya cari bolak-balik sudah enggak ada orang lagi. Saya pikir, saya mau saya rusak RRI itu," ucapnya.

Jengkel, Sintong pun punya niat untuk merusak peralatan radio yang ada di dalam Gedung RRI. Niat Sintong ini tak lepas dari perintah Sarwo Edhie untuk menghentikan siaran G30S/PKI yang masih terus berjalan.

"Saya pikir karena kemampuan saya saat itu, mau saya rusak RRI-nya itu. Tapi ada seroang staf RRI bilang 'Pak jangan dirusak, mahal semua itu'. Sehingga dia ambil sikap ada kontaknya dimatikan maka selesailah siaran itu," ujar sintong.

"Setelah itu, saya laporan (lagi) kepada Pak Sarwo Edhie, 'Siap sudah dihentikan'. Beliau jawab 'Ya lah, yang benar laporan itu. Baru ini sudah berhenti'. Berikutnya kita berbicara kepada Pak Sarwo Edhie, 'Saya memerintahkan bapak untuk menangkap semua, sudah saya tangkap semua. Tapi bapak memerintahkan saya menghentikan siaran itu, ya mungkin saya ledakan itu'," katanya.

Apa yang dikatakan Sintong justru membuat Sarwo Edhie tertawa. Sontak Sarwo Edhie pun meldek anak buahnya itu.

"Saya katakan 'berarti ada gunanya juga itu (kru-kru RRI)', lalu semuanya tertawa. Pak Sarwo Edhie bilang 'Ah, dasar kau orang kampung'," ucap Sintong sambil tertawa.