Jenderal polisi kaya-raya, anggotanya hidup sederhana

MERDEKA.COM. Kehidupan mewah yang dilakoni Irjen Djoko Susilo beserta keluarga nyatanya tidak dirasakan oleh oleh anggota kepolisian berpangkat rendah. Sudah bukan rahasia umum, kehidupan seorang jenderal berbanding terbalik dengan anggota kepolisian yang masih berpangkat bintara.

Contohnya saja yang dialami Aiptu DW. Anggota kepolisian yang sehari-hari bertugas di sebuah pos polisi di Jakarta Selatan. Dia mengaku kehidupannya jauh dari mewah. 

"Kalau anak buah seperti saya mah biasa biasa aja mbak,"  ujar DW saat ditemui merdeka.com, Selasa (19/3).

Bahkan, pria berusia sekitar 47 tahun ini membangun rumah di atas tanah warisan keluarganya di Jagakarsa. "Kalau bukan warisan, mana mungkin punya rumah di Jakarta," akunya.

Saat merdeka.com mengunjungi kantor Aiptu DW, pemandangan yang terlihat pun memang jauh dari mewah.

Pos polisi itu mempunyai luas tanah sekitar 100 meter. Saat memasuki pos terlihat beberapa kursi dan meja dari kayu dengan desain standar. Juga ada sebuah komputer dengan layar monitor yang masih cembung. Terdapat pula sebuah AC yang sudah tua dan cukup kotor.

Ya, disitulah tempat petugas menerima sejumlah keluhan dari masyarakat. "Kalau laporan yang diterima di sini biasanya laporan kehilangan KTP atau paspor. Kalau ada peristiwa seperti pencurian, biasanya petugas sini langsung cek TKP setelah itu laporan ke polsek untuk minta bantuan," cerita DW.

Di ruangan selanjutnya, terdapat sebuah kulkas kecil satu pintu dan meja kayu tempat meletakkan satu unit televisi. DW mengatakan sejumlah barang yang terdapat di dalam pos polisi tersebut merupakan hasil patungan anggota, bahkan ada pula warga yang memberikan secara cuma-cuma.

"Ini kulkas dikasih warga. Kalau TV ini urunan kita (petugas pos pol)," tuturnya.

Dalam kesehariannya bekerja, Aiptu DW pun tidak mengendarai mobil. "Mana punya mobil mbak. Uang pokoknya habis buat kebutuhan keluarga saja," ujar ayah 2 anak ini.

Kendati demikian, Dodi pun tetap bersyukur dengan kehidupan yang dia jalani. "Nggak papa lha. Disyukuri aja yang ada sekarang," imbuhnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.