Jenderal SAS Inggris Mengaku Kapok Perangi TNI dan Rakyat Indonesia

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejarah Indonesia mencatat bagaimana dahsyatnya Pertempuran Surabaya yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945. Tak hanya prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), milisi pro-kemerdekaan yang berasal dari barisan pejuang rakyat dengan gagah berani menghadapi Pasukan Khusus Angkatan Darat Inggris (SAS).

Dengan semangat dan tekad untuk meraih kemerdekaan, TNI dan rakyat Indonesia sama sekali tak peduli siapa pun musuh yang datang. Jika mengganggu dan mengancam kedaulatan bangsa dan negara, meski nyawa taruhannya tentu akan dihadapi.

VIVA Militer melaporkan dalam berita sebelumnya, ada pengakuan dari dua purnawirawan perwira tinggi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (US Armed Forces) soal kehebatan tempur pasukan TNI. Keduanya adalah eks Panglima Angkatan Bersenjata AS, Jenderal (Purn.) Peter Pace, dan mantan Komandan Operasi Badai Gurun (Desert Storm), Jenderal (Purn.) Tommy Franks.

Ternyata, tak cuma Pace dan Franks yang mengakui kehebatan pasukan TNI. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Kerajaan Inggris yang juga anggota Pasukan Khusus Angkatan Kerajaan Darat Inggris (SAS), Jenderal Sir Michael David Jackson, juga punya pandangan yang sama.

Sebagai mantan orang nomor satu di Angkatan Darat Kerajaan Inggris, Jackson tahu persis bagaimana kehebatan strategi perang gerilya militer dan rakyat Indonesia. Jackson juga tahu bagaimana keberanian pasukan TNI dan rakyat Indonesia mampu mengalahkan pasukan Inggris dalam Pertempuran Surabaya 75 tahun silam.

Dalam pandangan Jackson, perang gerilya adalah doktrin yang jadi keunggulan pasukan TNI dan rakyat Indonesia. Pria 76 tahun itu juga mengetahui bahwa sejumlah negara di Asia dan Afrika sangat terinspirasi dan juga memakai taktik perang gerilya.

"Doktrin militer Indonesia sudah dipakai di beberapa negara Asia bahkan Afrika. Karena, Indonesia memang diminta melatih beberapa negara Asia dan Afrika," ucap Jackson.

Apa yang terjadi di Pertempuran Surabaya, disebut Jackson membuat Inggris mendapat pelajaran yang sangat berharga. Sebab meski pihaknya unggul dalam hal teknologi persenjataan, dukungan rakyat terhadap pasukan TNI dalam perjuangan justru mampu mengalahkan kecanggihan Inggris.

Oleh sebab itu, hingga saat ini Inggris menurutnya tidak lagi menganggap remeh kemampuan tempur TNI dan rakyat Indonesia. Sebab seperti yang sudah pernah terjadi, rakyat Indonesia akan senantiasa berada di barisan terdepan bersama TNI jika kedaulatannya terancam.

"Meski Indonesia kekurangan senjata, tidak mungkin mudah menaklukkan Indonesia. Karena jika perang terjadi, bukan hanya militernya yang maju perang, Tapi, rakyatnya juga pasti turut membantu untuk menghabisi lawan," ujar Jackson.

"SAS sudah pernah merasakan saat berhadapan dengan aliansi tentara Indonesia dan rakyat indonesia. Jadi jangan pernah anggap ringan dengan Indonesia," katanya.