Jenderal Tito, Kapolri Termuda yang Dimusuhi Teroris

Siti Ruqoyah, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 4 menit

VIVA – Jenderal purnawirawan Tito Karnavian adalah mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) sejak 13 Juli 2016 hingga Oktober 2019. Tito menjadi Kapolri dengan angkatan kelulusan Akpol paling muda yang menjadi pimpinan kepolisian. Padahal, saat itu masih ada jenderal senior yang bisa menjabat sebagai Tri Brata (TB) 1. Tito diketahui melompati empat angkatan di atasnya.

Karier Tito terbilang moncer selama era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kini, ia dipercaya menjadi Menteri Dalam Negeri periode 2019-2024.

Tito, pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan pada 26 Oktober 1964 ini seorang perwira tinggi Polri yang memiliki prestasi bagus. Terbukti, ia meraih berbagai bintang penghargaan dan menorehkan prestasi selama berkarier di Korps Bhayangkara.

Ia adalah penerima bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) terbaik tahun 1987. Selain itu, Tito juga terkenal penumpas terorisme di Indonesia. Bahkan, ia memimpin langsung saat melumpuhkan teroris Dr. Azhari di Batu, Malang, Jawa Timur pada tahun 2005.

Keterlibatannya dalam memberantas teroris tak diragukan lagi, bahkan Tito sangat paham seluk beluk untuk memerangi kelompok terorisme. Hingga akhirnya, ia sering menjadi pembicara terkait kejahatan terorisme sampai kancah internasional.

Di antaranya penugasan di Hawaii (Asian Crimes Conference) (2004), Hawaii (PASOC Conference on Terrorism) (2007), Radicalisation course in Sydney (2010), Seminar on Terrorism, Canberra and Sydney (2010), Seminar on Terrorism di Canberra and Sydney (2011-2012).

Kemudian acara anti Terrorism Course, info sharing with Singapore Police, Force Conference (2005). Lalu, investigation into terrorism case di Phillippinee (2005), acara 2nd Istanbul Conference on Terrorism and Global Security (2007), serta Speakers on Terrorism and Political Conflicts in Phnom Penh di Cambodia (2009).

Bukan cuma diakui kecerdasannya oleh negara lain, Tito juga menorehkan prestasi dalam mencegah dan menumpas kelompok terorisme di Indonesia. Tercatat, ia terlibat dalam mengungkap kasus menonjol teroris. Antara lain bom Kedubes Filipina (2000), bom malam Natal (2000), bom Bursa Efek Jakarta (2001), bom Plaza Atrium Senen (2001), bom Makassar (2002), bom JW Marriott (2003), bom Kedubes Australia (2004) dan bom Bali II (2005).

Kemudian kasus mutilasi 3 siswi di Poso (2006), bom Pasar Tentena (2005), bom Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott (2009), bom bunuh diri Polres Cirebon (2011), bom Sarinah Thamrin (2016) dan Operasi Tinombala (2016–sekarang).

Saat melumpuhkan teroris Dr. Azhari di Batu, Jawa Timur pada 9 November 2005, Tito masih berpangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi), tapi dipercaya memimpin tim Densus 88 untuk melumpuhkan teroris.

Atas prestasinya, Tito diberi penghargaan dari Kapolri Jenderal Sutanto pada saat itu bersama para kompatriotnya seperti Kapolri (sekarang) Jenderal Idham Azis, Saiful Maltha, Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Golose, Kaba Intelkam Polri Komjen Rycko Amelza Dahniel dan lainnya.

Bukan cuma itu, Tito juga pernah memimpin sebuah tim khusus kepolisian yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin M Top. Atas prestasi ini, pangkat Tito kembali dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal Polisi dan diangkat sebagai Kepala Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri.

Dari sini, Tito kariernya terus menanjak hingga ditugaskan sebagai Kapolda Papua oleh Kapolri Jenderal Timur Pradopo pada 3 September 2012, menggantikan Irjen Bigman Lumban Tobing. Namun, secara resmi baru aktif pada 27 September 2012.

Setelah dari Kapolda Papua, ia dirotasi dan dilantik sebagai Asrena (Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran) di Ruptama Polri pada 16 Juli 2014. Ia menggantikan Irjen Pol Sulistyo Ishak, yang purna tugas.

Selanjutnya, Tito ditugasi oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti untuk menggantikan Irjen Unggung Cahyono sebagai Kapolda Metro Jaya, berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1242/VI/2015.

Saat menjadi Kapolda Metro Jaya, Tito membuat gebrakan dengan meminta jajaran untuk blusukan mengurai kemacetan setiap Senin pagi, dibandingkan melakukan Apel Pagi.

Tak kalah heboh, Tito dihadapi kasus besar yaitu teror bom dan penembakan di pusat perbelanjaan Sarinah pada Januari 2016. Beruntung, Tito punya pengalaman yang mendalam soal terorisme sehingga kurang dari 5 jam Ibu Kota sudah kembali dikuasai dan kondusif serta 7 tersangka tertangkap.

Pada 14 Maret 2016, dia diangkat menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggantikan Komjen Saud Usman Nasution yang memasuki masa pensiun, sesuai surat telegram nomor ST/604/III/2016 tanggal 14 Maret 2016.

Tentu, Tito memulai kariernya hingga bisa menjadi Kapolri itu merintis dari bawah dan selalu strategis jabatan yang diembannya. Kebanyakan, ia bertugas di bidang reserse kriminal maupun terorisme.

Awalnya, ia menjabat sebagai Pamapta Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1987), Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1987–1991), Wakapolsek Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1991–1992).

Kemudian Wakapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya, Sespri Kapolda Metro Jaya (1996), Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya (1996–1997) hingga Sespri Kapolri (1997–1999) dan banyak lagi jabatan yang diembannya.

Di samping itu, Tito juga tampak haus dengan ilmu pendidikan. Tingkat pendidikan dasar hingga menengah atas, ia sekolahnya di Palembang sejak 1976-1983. Tahun 1987, ia masuk Akpol hingga jadi lulusan terbaik.

Kemudian, Master of Arts (M.A.) in Police Studies, University of Exeter, UK (1993). Lalu Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1996); Penerima bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan PTIK terbaik dan Royal New Zealand Air Force Command & Staff College, Auckland, New Zealand (Sesko) (1998).

Selanjutnya, Bachelor of Arts (B.A.) in Strategic Studies, Massey University, New Zealand (1998). Kemudian Sespim Pol di Lembang (2000), Lemhannas RI PPSA XVII (2011) penerima Bintang Seroja sebagai peserta Lemhanas terbaik.

Selain itu, Ph.D in Strategic Studies with interest on Terrorism and Islamist Radicalization at S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapore (magna cum laude) tahun 2013. (ase)