Jenderal TNI Hendropriyono: Intelijen Tidak Pernah Ngarang!

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebagai seorang prajurit satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Jenderal TNI (Purn.) Abdullah Mahmud Hendropriyono memiliki naluri yang tajam di bidang intelijen. Kemapuan ini yang membawanya masuk dalam Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI dan akhirnya di Badan Intelijen Negara (BIN).

Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Akademi Militer (Akmil), Hendropriyono adalah jebolan tahun 1967. Sejak 1968 hingga 1985, pria kelahiran Yogyakarta 7 Mei 1945 ini menjadi perwira Kopassus, dan ikut serta dalam sejumlah operasi militer. Mulai dari pembasmian Darul Islam/Tentara Nasional Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, hingga Operasi Seroja di Timor-Timur.

Kemudian pada 1985, Hendropriyono ditunjuk sebagai Asisten Intelijen (Asintel) Kodam Jayakarta/Jaya. Di sini lah Hendropriyono mendalami ilmu di bidang intelijen.

Setelah menjadi Komandan Komamdo Resor Militer (Danrem) 043/Garuda Hitam (Gatam) periode 1987 hingga 1991, Hendropriyono ditarik ke Badan Intelijen Strategis (BAIS) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Sejak 1991 hingga 1994, Hendropriyono menjabat Direktur A dan D BAIS ABRI.

Setelah pensiun dari dunia militer, Hendropriyono pun dipilih untuk menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang pertama di era Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri. Menduduki jabatan itu selama 2001 hingga 2004, banyak pembuktian naluri intelijen Hendropriyono yang pada akhirnya terbukti benar.

Tak hanya di dalam negeri, sejumlah peristiwa yang menggemparkan dunia internasional juga pernah masuk dalam prediksinya. Salah satunya adalah Peristiwa 9/11 di New York, Amerika Serikat (AS).

Momen mengerikan itu terjadi saat dua menara kembar World Trade Center (WTC) roboh dan rata dengan tanah akibat ditabrak dua pesawat yang diduga dibajak oleh anggota kelompok teroris Al-Qaeda.

***

"Pada 10 Agustuts (2001) saya bilang teroris internasional akan marak di dunia dan kita supaya hati-hati, saya dibilang menyanyikan lagu lama. Tahu-tahu, (peristiwa) WTC meletus, sampai saya diundang ke Washington untuk bicara analisa itu, bagaimana kok bisa tahu dan sebagainya," ujar Hendropriyono.

Oleh sebab itu menurutnya, menjadi seorang intelijen tak hanya harus memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi. Akan tetapi, harus memiliki kejujuran. Dalam hal ini, Hendropriyono menegaskan bahwa haram hukumnya intelijen berbohong atau menyajikan data yang tidak benar.

"Yang pertama harus seorang yang jujur, tidak mengarang, tidak mencari popularitas, dan juga tentu IQ-nya harus memadai," kata Hendropriyono melanjutkan.

Kemudian, mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya ini juga menyiratkan bahwa intelijen adalah alat negara. Disebut Hendropriyono, seorang intelijen bergerak sesuai dengan instruksi user (pengguna) dalam hal ini negara.

Karena itu, seorang intelijen juga punya kemungkinan untuk memberikan data yang keliru. Akan tetapi, kekeliruan ini adalah kesalahan secara individu, dan bukan sebuah kebohongan.

"Yang tidak jujur itu user-nya. Intelijennya kan jujur terhadap user, bukannya jujur ke musuh. Kalau user-nya menggunakan untuk kejahatan ya itu sudah masuk dalam sistem. Bukan dalam konteks jujur intelijen secara individu," ucap Hendropriyono lagi.

"Misalnya saya harus mempublikasikan temuan intelijen yang benar, bukan bohong. Ada pun kalau keliru, keliru dan bohong beda ya. Misalnya pada suatu waktu sebagai manusia biasa ada kekeliruan, itu bisa saja, tapi tidak bohong. Tapi kalau bohong barang tidak ada di bilang ada, dan itu yang tidak boleh," katanya.