Jenderal TNI Luhut Marah Besar Gara-gara Ditinggal Anak Buah

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Hati Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan berguncang hebat, saat mengetahui ada sejumlah anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang merupakan anak buahnya, pergi meninggalkannya. Mengetahui hal ini, Luhut marah besar lantaran ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.

Bisa dipastikan bahwa Luhut adalah salah satu putra terbaik bangsa yang lahir dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Luhut bahkan merupakan salah satu prajurit TNI terbaik yang besar namanya di Kopassus.

Saat masih bernama Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha), sejumlah prajurit Korps Baret Merah memiliki peran sentral dalam menjalankan Operasi Seroja di Timor-Timur.

Saat dimulainya Operasi Seroja, 7 Desember 1975, Luhut adalah salah satu perwira Kopassus yang menjabat sebagai Komandan Tim Grup 1 Para Komando Satuan Lintas Udara, yang ikut serta dalam penerjunan. Namun demikian, ternyata ada kisah haru di balik proses penerjunan ke daerah musuh itu.

Dikutip VIVA Militer dari catatan Luhut di akun Facebook pribadinya, pada saat hari pertama serangan ke Timor-Timur Luhut justru gagal ikut. Mengapa bisa? Saat hendak melakukan penerjunan, ternyata pesawat C-130B Hercules yang ditumpanginya dan anak buahnya mendapat serangan dari bawah.

Akibatnya, pesawat pun menjauh dari wilayah daratan dan terbang menuju laut di wilayah udara Pulau Alor. Diungkap Luhut, ada kesalahan data intelijen yang menyebut bahwa pasukan pemberontak Front Revolusi Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin) memiliki senjata penangkis serangan udara salah besar.

"Ketika giliran saya untuk melompat tiba, saya tinggal menunggu aba-aba dari jump-master. Tetapi tiba-tiba terasa pesawat miring. Bunyi bel berdering panjang juga berhenti dan dua orang jump master di pintu kiri dan kanan Hercules menyilangkan kaki ke pintu, sementara load master buru-buru menutup pintu. Lho, ada apa? Saya bertanya-tanya," tulis Luhut.

"Rupanya informasi intel yang tidak tepat sebelumnya tentang adanya senjata penangkis udara di lapangan terbang Dilli dan adanya tembakan gencar dari bawah yang mengenai pesawat Hercules yang kami naiki mempengaruhi pilot untuk segera menyingkir dari wilayah di atas lapangan terbang. Yang paling aman tentulah terbang ke arah laut," lanjutnya.

Pesawat yang ditumpangi Luhut dan anak buahnya akhirnya berputar arah dan mendarat di Pangkalan Udara Penfui, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Luhut dan 78 orang anggota Kopassandha pun gagal terjun untuk menjalankan tugas.

Saat tiba di Pangkalan Udara Penfui, Luhut menyaksikan sendiri ada beberapa bagian pesawat yang rusak akibat berondongan tembakan pemberontak Fretilin.

Tak hanya itu, seorang load master (awak udara di pesawat sipil atau pesawat angkut militer yang ditugaskan untuk memuat, mengangkut, dan menurunkan muatan udara secara aman), tewas akibat terkena tembakan.

"Menghentikan penerjunan menyebabkan 78 orang anggota Kopassandha tidak bisa terjun, dan semua "terpaksa" terbawa ke Kupang. Ketika mendarat di pangkalan udara Penfui, saya baru tahu ada sejumlah peluru tembakan dari bawah yang menyebabkan kerusakan kecil di sejumlah C-130B," lanjut Luhut.

"Bahkan seorang load master di Hercules yang lain tewas terkena peluru yang ditembakkan dari bawah. Kasus seperti itu memang jarang sekali terjadi," katanya.

Sebagai seorang komandan, Luhut jelas tak senang dengan situasi itu. Apalagi, Luhut tahu persis bahwa ada beberapa anak buahnya yang sudah terjun ke daratan untuk menjalankan tugas.

Luhut mengakui, perasaannya sangat jengkel dan khawatir saat itu. Pasalnya, ia sama sekali tak tahu nasib anak buahnya yang sudah terjun. Sementara di sisi lain, ia masih berada dalam kondisi aman dan tak bisa berbuat banyak untuk memimpin anak buahnya yang sudah bertempur lebih dulu.

"Perasaan saya sendiri campur-aduk. Antara kesal, marah, khawatir semua bercampur baur di dalam kabin pesawat C-130B tersebut. Sejumlah anak buah saya telah terjun dan mungkin sudah terlibat tembak-menembak, dan mungkin juga telah menjadi korban. Sementara saya tak berdaya serta malahan tidak mampu memimpin mereka merebut sasaran yang ditentukan," ucap Luhut lagi.