Jenderal TNI Lulusan Terbaik Ternyata Lahir di Daerah Langganan Banjir

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Setiap hasil tidak akan pernah mengkhianati sebuah proses. Mungkin itu lah ungkapan yang pas ditujukan kepada salah satu putra terbaik yang lahir dari TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI (Purn.) Budiman.

Menurut data yang diperoleh VIVA Militer dari situs resmi Akademi Militer (Akmil), Budiman adalah salah satu dari 28 alumni yang berhasil mencapai pangkat tertinggi jenderal bintang empat.

Tak cuma itu, mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IV/Diponegoro ini juga merupakan lulusan terbaik Akademi Militer tahun 1978. Dengan prestasi tersebut, Budiman adalah salah satu perwira yang diganjar penghargaan Adhi Makayasa.

Dikenal sebagai jenderal yang rendah hati dan murah senyum, Budiman banyak menempati posisi strategis semasa masih aktif berdinas bersama TNI Angkatan Darat. Pada 1994 misalnya, meski berasal dari satuan Zeni Budiman sempat dipercaya menjadi Kepala Zeni (Kazi) Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Pada Oktober 2009, Budiman yang saat itu berpangkat Mayor Jenderal (Mayjen) TNI, dipercaya memimpin Kodam IV/Diponegoro, menggantikan posisi Mayjen TNI Haryadi Soetanto.

Setahun berselang, pangkat Budiman naik menjadi Letnan Jenderal (Letjen) TNI. Dengan pangkat jenderal bintang tiga, Budiman mendapat tugas baru sebagai Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat) TNI Angkatan Darat.

Setelah itu, Budiman dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) pada 2011 dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Sekjen Kemenhan) pada 2013.

Tepatnya pada 30 Agustus 2013, Budiman mencapai pangkat tertinggi Jenderal TNI dan menjadi orang nomor satu di TNI Angkatan Darat. Ya, saat itu Budiman dipercaya Presiden Republik Indonesia (RI) ke-6, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad).

Sederet prestasi yang ditorehkan oleh pria kelahiran Jakarta 25 September 1965 ini, adalah hasil kerja keras yang dilakukannya selama ini. Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, Budiman mengakui bahwa ia lahir dari keluarga yang kurang mampu.

Oleh sebab itu, sejak masih duduk di bangku sekolah Budiman juga membantu kedua orang tuanya sambil bekerja. Budiman juga mengakui bahwa ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pemimpin. Menurutnya, untuk menjadi seorang pemimpin maka sikap mutlak yang harus dimilikinya adalah disiplin.

"Karena saya basic-nya kan dari orang yang tidak punya, jadi saya sekolah dengan penuh kesungguhan karena cita-citanya ingin jadi pemimpin. Untuk bisa jadi pemimpin harus disiplin, untuk pendidikan yang mengutamakan disipllin ya AKABRI zaman itu, sekarang Akmil," ujar Budiman.

"Saya masuk begitu memulai masa orientasi rasanya keliling kepala saya itu. Tetapi karena sudah cita-ciita saya jalani dengan baik. Kemudian karena dulunya saya sambil sekolah sambil bekerja dan sebagainya, sehingga kelelahan fisik yang luar biasa tidak terlalu berpengaruh terhadap cara belajar saya," katanya.

Siapa sangka, ternyata Budiman juga lahir di salah satu daerah di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang kerap dilanda banjir. Ya, Budiman lahir di daerah Bukit Duri, Jakarta Selatan. Budiman menceritakan bahwa sang ibunda tercinta memang asli Bukit Duri.

Di kelurahan yang terletak di Kecamatan Tebet ini, Budiman menghabiskan masa kecil bersama teman-temannya. Pada suatu saat ketika ia sudah menduduki posisi sebagai Kasad, Budiman sempat berkunjung ke Bukit Duri dan bertemu dengan seorang sahabat lamanya.

Kunjungan Budiman saat itu tak lain lantaran pada awal 2014, Jakarta dan wilayah sekitarnya dilanda banjir besar.

"Kebetulan ibu saya itu asli Bukit Duri. Jadi di Bukiy Duri Tanjakan Gang Langgar. Ibu saya lahir di situ, besar di situ, ketemu ayah saya di situ. Sehingga, di situ ketemu banyak saudara saya dan kawan-kawan saya," ucap Budiman.