Jenderal TNI Mulyono: Preman Bikin Resah Rakyat, Habisi Buang ke Got!

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Aksi beringas tujuh orang preman mengeroyok seorang anggota Korps Brimob Polri dan satu orang prajurit TNI di bilangan Blok M, Jakarta Selatan, Minggu 18 April 2021, jadi bukti bahwa premanisme masih membuat resah masyarakat.

VIVA Militer melaporkan dalam berita Senin 19 April 2021, akibat pengeroyokan oleh sejumlah preman, seorang anggota Brimob bernama Bharatu Yohanes tewas dengan sejumlah luka tusuk. Sementara itu, seorang prajurit TNI yang kabarnya adalah anggota pasukan elite mengalami luka-luka.

Sebagai garda terdepan pelindung rakyat Indonesia, anggota Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia (Korps Brimob Polri) dan prajurit Tentara Nasional Indonesia itu telah membuktikan dedikasinya.

Terkait masalah ini, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) ke-31, Jenderal TNI (Purn.) Mulyono, pernah memberikan arahan kepada sejumlah prajurit di Batalyon Infanteri (Yonif) 725/Waroagi, dalam kunjungannya pada 2017 silam.

Ditegaskan Mulyono, seorang prajurit harus menguasai ilmu bela diri. Dengan kemampuan bela diri, prajurit TNI harus bisa menghadapi ancaman seorang diri. Seorang prajurit menurutnya, tidak boleh melakukan pengroyokan karena itu adalah sifat seorang pengecut.

"Tentara harus jago gelut, tentara diajak ribut harus gelut harus menang. Bukan keroyokan, preman satu dikeroyok 10 tentara. Itu pengecut namanya. Kalau gelut ya harus sendiri-sendiri, dan kamu harus punya kemampuan itu," ujar Mulyono.

Bukan cuma itu, Mulyono juga mengingatkan anak buahnya agar senantiasa menggunakan taktik dan strategi dalam menghadapi ancaman. Mulyono mencontohkan, jika ada seorang prajurit TNI berhadapan dengan tiga orang preman, maka lebih baik menghindar lebih dulu.

Sebab menurut mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu, prajurit juga adalah seorang manusia. Jadi, sangat penting untuk membaca kekuatan diri sendiri dan tentu kekuatan lawan.

"Kamu seorang diri ngadepi tiga orang preman kamu berani aja, mentang-mentang kamu tentara. Tentara juga manusia, kamu juga makan nasi, jangan sok jagoan lawan preman yang gede-gede tiga," kata Mulyono melanjutkan.

"Enggak mungkin (lawan) tiga (preman), ya jangan pada saat itu. Kemenangan berkelahi itu enggak ada batasnya. Kalau enggak bisa sekarang besok. Enggak bisa besok lusa. Enggak bisa lusa, lusanya lagi. Yang penting dia masuk got, tinggal lari," ujarnya.

Kemudian, Mulyono juga menghimbau kepada para anggota Polisi Militer TNI Angkatan Darat (POMAD) agar mengerti dan mencari tahu duduk perkara jika ada seorang prajurit ketahuan berkelahi. Jika tertangkap dan terbukti berkelahi dengan preman karena membela diri atau membela rakyat, Mulyono meminta anggota POMAD untuk tidak memprosesnya.

Sebagai orang nomor satu di TNI Angkatan Darat saat itu, Mulyono jelas tahu persis apa tugas utama prajurit adalah membela dan melindungi rakyat. Tapi dalam pandangannya, rakyat yang layak dibela adalah rakyat yang baik dan bukan preman.

"Ya POM, kalau ada tentara yang gelut biarin aja, sepanjang dia enggak kurang ajar. Kalau dia yang kurang ajar duluan tangkap saja, proses, masukin sel. Tapi kalau dia enggak kurang ajar dinakali orang, biarin aja. Biar dia mateni wong (membunuh orang)," ujar Mulyono lagi.

"Rakyat yang seperti apa yang harus kita bela? Rakyat yang baik. Kalau preman-preman meresahkan penduduk ngapain, pukul aja, hantemi, lemparkan di got!" katanya.