Jenderal TNI Pengganti Prabowo: Bangsa Indonesia Seperti Semen Basah

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebuah pesan sarat makna persatuan terlontar dari sosok Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat, Letjen TNI (Purn.) Johny Lumintang. Sebagai seorang mantan prajurit tempur, pria asli Minahasa ini mengingatkan bahwa pluralisme di Indonesia bisa jadi pisau bermata dua.

Dikutip VIVA Militer dari sebuah akun Youtube, Johny memberikan pandangannya terhadap situasi negara saat ini. Pria kelahiran Minahasa 28 Juni 1947 ini merasakan adanya ancaman yang bisa memecah belah persatuan bangsa, yang didasari oleh suku, agama, ras, dan golongan (SARA).

Jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1970 ini mengingatkan, bangsa Indonesia didirikan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa memikirkan identitas suku, agama, dan ras.

Saat Perang Kemerdekaan Indonesia meletus, hanya ada satu tujuan yakni memerdekaan bangsa dari penjajahan Belanda, Jepang, dan sekutu.

"Negara ini didirikan oleh seluruh bangsa Indonesia. Di kita ini beribu-ribu tahun itu sudah ada suku-suku bangsa, mulai dari Aceh sampai Papua," ucap Johny.

"Mereka bersatu untuk mendirikan yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak berdasarkan suku, agama, ras, atau gologan, SARA. Pada saat itu orang tidak memikirkan kamu suku apa, agama apa. Tapi bersama-sama untuk bisa memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan," katanya.

Bagi Johny, kebinekaan atau pluralisme yang ada di Indonesia merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Namun demikian, pria yang menggantikan Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) ini yakin, pluralisme bisa menjadi sangat berbahaya jika ada kesalahan pengelolaan.

Pria yang juga pernah menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VIII/Trikora, sekarang Kodam XVII/Cenderawasih, mengibaratkan persatuan bangsa Indonesia bak semen yang masih basah. Analogi semen basah memungkinkan bahwa sewaktu-waktu persatuan bangsa masih bisa terpecah.

Tak hanya itu, Johny juga mengibaratkan keragaman di Indonesia juga bisa jadi bom waktu yang meledak andai rakyatnya tidak bersatu.

"Saya katakan bahwa bangsa Indonesia ini seperti semen yang belum kering persatuannya, masih basah. Atau saya katakan ini mosaik yang bisa terpecah-pecah. Saya katakan bahwa SARA itu sebenarnya ibu bangsa ini. Bagaikan bom, bagaikan granat, yang kalau kita salah kelola itu bisa pecah," ujar Johny.

"Pluralisme yang diberikan Tuhan kepada bangsa ini itu berkat, kalau kita bisa mengolah. Tapi bisa menjadi laknat kalau kita salah mengelola," katanya.