Jenderal TNI Soerjadi: Saya Tidak Akan Jadi Apa-apa Tanpa Izin Tuhan

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Jauh sebelum Mayjen TNI Dudung Abdurachman memimpin Komando Daerah Militer (Kodam) Jayakarta/Jaya, ada seorang sosok jenderal lulusan terbaik Akademi Militer 1962. Tak hanya itu, jauh sebelum Anies Baswedan menjadi Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, sosok ini juga lebih dulu menduduki posisi itu. Ya, ia adalah Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Soerjadi Soedirdja.

Dalam data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Akademi Militer (Akmil), saat ini ada hanya 28 Perwira Tinggi (Pati) TNI dengan pangkat jenderal bintang empat. Dari 28 jenderal, hanya ada beberapa orang saja yang meraih predikat sebagai lulusan terbaik, dan menerima penghargaan Adhi Makayasa.

Soerjadi adalah salah satunya. Dalam video yang diunggah sebuah akun Youtube, pria kelahiran Jakarta 11 Oktober 1939 ini menceritakan secara singkat pengalamannya menjadi lulusan terbaik.

Perlu diketahui, seorang Perwira Pertama (Pama) TNI yang meraih titel lulusan terbaik akan dilantik langsung oleh Presiden Republik Indonesia (RI). Pun dengan Soerjadi, yang senantiasa mengingat saat Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, melantik dirinya pada 20 Desember 1962.

Tak hanya itu, pada 2002 silam Soerjadi pernah kembali mengunjungi Lapangan Tidar, tempat ia menghabiskan pendidikan militernya. Dalam sebuah prasasti yang ada di sana, namanya tercantum sebagai salah satu jebolan Akmil yang berhasil mencapai pangkat bintang empat.

Soerjadi mengingat, saat itu baru ada 17 orang Perwira Tinggi TNI Angkatan Darat, yang berhasil meraih titel jenderal penuh termasuk dirinya.

"Saya masuk Akadmi Militer tahun 1959 dan tamat tahun 1961. Diwisuda oleh Presiden Soekarno, di Magelang pada 20 Desember 1962. Tertera di prasasti di Akademi Militer, ketika saya ke sana tahun 2002 ada 17 (Jenderal). Itu di luar angkatan 1945," ucap Soerjadi.

Pria yang juga pernah mendapatkan pendidikan militer di Prancis pada 1974 ini pernah menduduki sejumlah posisi strategis, baik saat masih aktif berdinas di TNI dan posisi politik

Pada 1988 hingga 1990, Soerjadi didapuk menjabat sebagai Pangdam Jaya, setelah sebelumnya dipercaya menjadi Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro. Setelah itu, pangkat Soerjadi naik menjadi Letnan Jenderal (Letjen) TNI, saat mengemban tugas sebaga Asisten Sosial Politik (Asospol) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1992 hingga pensiun pada 1997.

Karier Soerjadi lalu masuk ke pemerintahan. Pada 1992, Soerjadi menduduki posisi sebagai Gubernur DKI Jakarta ke-10, menggantikan posisi Letjen TNI (Purn.) Wiyogo Atmodarminto. Tepatnya 29 Oktober 1999, Soerjadi dipercaya Presiden ke-4 RI, Abdurahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, menggantikan Letjen TNI (Purn.) Syarwan Hamid.

Setelah itu pada 15 Februari 2000, Soerjadi kembali ditunjuk sebagai menteri. Kali ini, Soerjadi dipercaya Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, untuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Polituk, Sosial, dan Keamanan, untuk menggantikan posisi Jenderal TNI Wiranto.

Meski memiliki predikat sebagai lulusan terbaik Akmil, dan memiliki sejumlah jabatan strategis, Soerjadi ternyata tak lantas lupa diri. Baginya, semua yang pernah diraihnya tidak akan mungkin didapat tanpa adanya restu dari sang pencipta.

Sosok yang dikenal low profile ini mengingat bahwa ia hanyalah seorang anak kampung yang tidak punya kemampuan apapun. Menurut Soerjadi, ia hanya seorang anak Inspektur Polisi, yang gugur saat berperang dengan Belanda di masa Revolusi Nasional Indonesia.

"Saya merasakan keluar biasaan. Tetapi, itu tidak mungkin ketika Tuhan tidak memberikan izin. Saya dari bukan apa-apa, anak kampung. Orang tua saya itu pada waktu saya kecil itu Inspektur Polisi. Ayah saya ditembak Belanda pada 11 Mei 1949. Ya, jadi saya bukan orang hebat, anggota masyarakat biasa," kata Soerjadi.