Jennifer Widjaja, pendiri Just Dabao: "Makanan sisa bisa terasa lezat"

·Lifestyle Contributor
·Bacaan 6 menit
(PHOTO: Jennifer Widjaja)
(PHOTO: Jennifer Widjaja)

Limbah makanan adalah masalah utama dunia yang membuat frustrasi, yang timbul akibat dari kecenderungan untuk terus-menerus mengonsumsi tanpa pertimbangan dan membuang makanan begitu saja.

Coba Anda berdiri di depan toko kue di jam-jam saat mereka akan tutup. Anda akan bisa melihat masalah ini secara nyata saat pekerja toko membuang makanan yang kondisinya masih sangat bagus dan layak makan ke dalam kantong sampah, membuangnya seolah-olah itu hal yang biasa saja di industri F&B. Lebih buruk lagi dengan makanan, baik mentah maupun matang, yang harganya sangat terjangkau, yang apabila kita membuangnya rasanya tak terlalu bermasalah secara ekonomi, dan justru menjadi solusi untuk kapitalisme berlebih.

Mari kita sambut ratu pengurang limbah makanan, Jennifer Widjaja, wanita kelahiran Indonesia yang kini menetap di Singapura. Tak seperti kebanyakan kita yang hanya duduk santai dan berkeluh kesah dengan masalah limbah makanan, Jennifer turun langsung ke jalanan, mengobrol dengan para konsumen, mengadakan focus group, dan membuat survei, semua dilakukan demi bisa lebih memahami bagaimana masalah ini bisa diatasi.

Solusinya? Just Dabao, perusahaan berdampak sosial yang bertujuan menghubungkan konsumen seperti saya, yang peduli terhadap limbah makanan, dengan penjual F&B yang tertarik untuk membuat perubahan terukur di bidang ini. Just Dabao bertujuan untuk mendistribusikan makanan berlebih yang tidak terjual. Caranya, menghubungkan konsumen dengan restoran yang menjual makanan berlebih mereka dengan diskon besar 50 hingga 70 persen pada menit-menit akhir.

Berikut wawancara penulis Yahoo, Nurzatiman, dengan Jennifer Widjaja.

(PHOTO: Jennifer Widjaja)
(PHOTO: Jennifer Widjaja)

Nurzatiman: Bagaimana Anda menggambarkan hal yang Anda lakukan pada seseorang yang baru Anda temui untuk pertama kali?

Jennifer Widjaja: Saya pejuang limbah makanan! Saya aktif berupaya mengurangi limbah makanan, dan membantu orang-orang agar bisa turut berkontribusi mengurangi limbah makanan lewat platform yang saya buat, Just Dabao. Keseluruhan konsep dari perusahaan dampak sosial ini berfokus untuk merancang ulang keberlanjutan sebagai pilihan pertama orang-orang tanpa mengorbankan gaya hidup mereka. Saya selalu percaya bahwa memberikan insentif lebih baik daripada memaksa.

Dengan Just Dabao, targetnya yaitu untuk menghubungkan tantangan logistik pengurangan limbah makanan dengan struktur insentif yang akan mendorong konsumen memikirkan dampak sosial yang disebabkan limbah makanan di lingkungan mereka. Ini juga membantu para pemilik usaha F&B terhubung dengan konsumen yang bersedia membeli makanan yang berpotensi dibuang begitu saja. Dan dengan kondisi tidak menentu yang dihadapi pemilik usaha F&B saat ini, setiap pendekatan untuk menghasilkan pemasukan akan sangat membantu.

Apa yang menginspirasi Anda membuat dan mendirikan Just Dabao?

Selama penerapan karantina parsial tahun 2020, sedih rasanya melihat tempat-tempat makan favorit saya harus tutup karena sesuatu yang di luar kontrol mereka. Di sisi lain, yang tersisa hanyalah beban ekonomi. Industri F&B termasuk yang utamanya paling terdampak, dengan laporan kerugian tahun-ke-tahun hampir mencapai 30 persen di Q3 tahun 2020.

Sejak itulah saya mulai melakukan riset terkait skenario F&B dan mendapati masalah limbah makanan yang tak terkendali di Singapura—kita membuang banyak sekali makanan setiap tahunnya. Saat saya menemukan beberapa makanan yang terbuang tersebut masih sangat layak dimakan, saya pun punya misi untuk mencari tahu alasannya.

Saya mulai berbicara dengan para konsumen, menjalankan focus group, dan membuat survei untuk memahami persepsi tentang makanan berlebih. Di akhir prosesnya, saya menemukan bahwa limbah makanan yang masih layak utamanya merupakan masalah logistik dan secara keseluruhan sebenarnya dapat dihindari. Nyatanya, jika dan bila makanan itu tersedia, akan ada konsumen yang bersedia membelinya. Saya hanya perlu menghubungkan mereka dengan cara yang praktis.

Namun, memulai sebuah konsep baru tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya merasa bingung dan di momen saat saya hampir menyerah, video ini membantu saya melihat berbagai hal secara berbeda. Sebelum melihat video ini, saya bingung dengan model pengiriman yang harus diterapkan tetapi tak lama saya menyadari bahwa model ekonomi biaya sepertinya kurang efektif. Eksperimen lab MIT Media di video ini membantu memunculkan ide yang membuka jalan menuju model Just Dabao.

Apakah Anda memang selalu menjadi pejuang limbah makanan yang gigih, atau itu sudah menjadi keyakinan yang tertanam dalam diri Anda sejak masih muda?

Sebelum mendirikan Just Dabao, saya pernah bekerja di beberapa perusahaan startup sukses di industri e-commerce di Indonesia dan startup perusahaan sosial di bidang layanan kesehatan yang mendapat sokongan dari Bill & Melinda Gates Foundation. Bahkan, saya pernah bekerja di perusahaan besar seperti P&G dan Bloomberg. Seperti yang Anda katakan, saya tidak punya pengalaman mendalam dalam industri berkelanjutan ataupun koneksi langsung untuk merintis startup di industri ini.

Namun, mengurangi limbah makanan telah menjadi keyakinan yang tanpa disadari sudah tertanam di pikiran saya sejak masih muda. Itu merupakan satu hal yang selalu ingin saya raih tetapi saya tidak pernah punya rencana yang konkret, hingga sekarang ini.

(PHOTO: Jennifer Widjaja)
(PHOTO: Jennifer Widjaja)

Apa kesalahpahaman terbesar yang dipikirkan orang-orang tentang hal yang dilakukan Just Dabao ini?

Banyak orang salah paham bahwa makanan berlebih kualitasnya tidak bagus atau tidak aman untuk dimakan. Ini tidak benar. Makanan berlebih bisa selezat makanan biasa. Kami bahkan membuat video cicip makanan dengan mata tertutup untuk menguji teori kami, dan hasilnya sangat menggembirakan.

Selain itu, kesalahpahaman lain yang paling sering kami temui yaitu bahwa makanan berlebih dianggap sama seperti makanan sisa, yang tidak habis terjual. Jika kita menggali lebih dalam, arti dari makanan berlebih sebenarnya lebih dari itu. Setiap makanan yang terdaftar di platform kami memiliki kisah unik di baliknya. Beberapa di antaranya karena masalah pasokan, kecacatan dari segi rupa, ataupun karena pembatalan acara. Alasannya ada begitu banyak dan, sayangnya, jauh melebihi dari apa yang mungkin kita bayangkan.

Satu hal yang pasti, makanan di platform kami masih sangat layak dimakan dan luar biasa lezat. Ulasan di halaman kami bisa menjelaskan semuanya, betapa puasnya para pelanggan dengan kualitas makanan yang mereka beli lewat platform Just Dabao.

Seperti apa bayangan kesuksesan Just Dabao di mata Anda, dan apa langkah Anda selanjutnya begitu tolok ukur tersebut telah tercapai?

Sukses itu ketika Just Dabao bisa membantu menyadarkan orang-orang bahwa untuk mencapai gaya hidup yang ramah lingkungan itu tidak harus mahal atau menyusahkan, dan ini bisa dilakukan oleh semua orang. Tolok ukur lainnya yaitu saat pemilik usaha F&B bisa termotivasi dan secara sadar membuat keputusan bisnis untuk lebih ramah lingkungan, serta mampu mencapai angka nol limbah dengan cara yang paling ramah lingkungan sekaligus menyenangkan.

Begitu pasar telah mampu dijangkau, saya ingin melihat ke area lain di bidang F&B yang memungkinkan saya menciptakan dampak positif dan terukur—terutama para pedagang kaki lima yang telah menginspirasi saya untuk memulai ini. Juga, tujuan akhir saya yaitu ingin memperluas jangkauan hingga ke tahapan lain dari rantai pasokan tempat makanan layak terbuang.

Bila melihat kondisi F&B di Singapura saat ini, apa satu hal yang bisa memberi Anda harapan lebih?

Orang-orang Singapura yang sangat menyenangkan.

Dulu pernah rasanya saya hampir menyerah dengan ide saya ini karena dari semua pedagang F&B yang saya hubungi, tidak ada yang bersedia mendaftar ke platform ini. Tetapi saya memaksa diri untuk tetap bertahan, tetap gigih walaupun menerima banyak penolakan selama dua bulan lamanya. Dan secara mengejutkan, pedagang pertama di platform kami adalah seorang koki muda yang melakukan pendekatan dengan kami. Pacar dari koki tersebut menunjukkan halaman Instagram kami, dan begitulah akhirnya ia bisa tahu tentang kami. Di saat orang lain tak ada yang siap, ia justru siap bergabung dengan kami.

Hal yang sama di hari-hari awal peluncuran, saat kami baru punya satu atau dua pedagang, orang-orang Singapura yang percaya pada misi saya membeli produk dan sangat memaklumi dengan berbagai kekurangan di awal bisnis saya. Mereka bersedia membantu dengan memberi masukan yang membangun dan jujur, dan juga menyebarluaskan bisnis saya.

Bahkan hingga saat ini pun, kami didukung oleh orang-orang hebat yang membantu menyebarluaskan platform ini—para pemilik grup

Facebook, penulis di saluran media, dan influencer yang menyukai dan percaya pada misi kami. Dikelilingi orang-orang luar biasa seperti ini memberi saya harapan besar dan mendorong saya untuk melakukan lebih banyak dan lebih baik setiap harinya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel