Jepang ambil langkah perangi inflasi karena harga naik berdampak besar

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida pada Jumat, mengatakan dia akan menginstruksikan pejabat-pejabat terkait di pemerintahannya untuk menerapkan langkah-langkah memerangi inflasi karena kenaikan harga sangat berdampak pada perusahaan-perusahaan dan konsumen.

Di balik perombakan kabinet baru-baru ini di tengah penurunan dukungan publik, Kishida mengatakan kenaikan harga untuk energi dan bahan makanan, khususnya, memiliki "dampak besar" pada perusahaan-perusahaan dan konsumen.

Pemimpin Jepang itu mengatakan langkah-langkah baru untuk menjinakkan inflasi akan menjadi prioritas utama untuk kabinetnya.

Dia mengatakan pada pertemuan pemerintah bahwa para pejabat akan diinstruksikan pada Senin (15/8/2022) untuk "dengan mulus" menerapkan langkah-langkah yang diperlukan guna mengatasi kenaikan harga energi, bahan baku dan biji-bijian.

"Roti dan mi, yang terbuat dari gandum, adalah barang penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Sangat penting bahwa harganya stabil," kata Kishida seperti dikutip dalam pertemuan yang dihadiri oleh para menteri kabinet dan pemimpin bisnis.

Baca juga: Jepang setujui anggaran tambahan tangkal kenaikan biaya hidup

"Saya akan menginstruksikan para pejabat untuk memberikan dukungan dengan memenuhi kebutuhan masing-masing wilayah dan untuk mengambil langkah-langkah tambahan yang berfokus pada energi dan bahan makanan yang merupakan bagian terbesar dari kenaikan harga baru-baru ini," kata Perdana Menteri Jepang itu.

Jepang belum terkena inflasi sekeras Amerika Serikat atau beberapa negara Eropa, dan beberapa perusahaan di sini telah berusaha untuk tidak meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen mereka di tengah permintaan yang lemah.

Perusahaan-perusahaan ini telah mampu melakukan ini dengan menyerap sendiri biaya yang lebih tinggi atau melalui subsidi pemerintah, tetapi para ekonom di sini mengatakan bahwa langkah-langkah seperti itu tidak berkelanjutan tanpa batas waktu dan konsumen sudah menghadapi kenaikan biaya untuk barang-barang sehari-hari.

Kishida mengatakan setelah perombakan kabinetnya pada Rabu (10/8/2022), bagaimanapun, bahwa dana cadangan sebesar 5,5 triliun yen (41 miliar dolar AS) dapat diakses dan ditargetkan untuk langkah-langkah buat menangani dampak negatif yang sedang berlangsung dari pandemi COVID-19 dan meningkatnya inflasi.

Peringkat persetujuan untuk kabinet Kishida mencapai 51,0 persen pada akhir Juli, yang terburuk, di antara kekhawatiran atas koneksi Partai Demokrat Liberal yang berkuasa dengan Gereja Unifikasi, setelah pembunuhan mantan Perdana Menteri Shinzo Abe.

Baca juga: BOJ jaga kebijakan longgar, Jepang tak terlalu terdampak inflasi dunia