Jepang Desak Anak Muda Lebih Banyak Minum Alkohol, Alasannya Mengejutkan

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah Jepang mendesak anak-anak muda di negara itu lebih banyak minum alkohol. Menurut data, konsumsi minuman beralkohol anak-anak muda saat ini lebih sedikit dibandingkan orang tua mereka. Hal ini berdampak pada pendapatan pajak negara dari produk minuman seperti sake atau arak beras khas Jepang.

Itulah salah satu alasan pemerintah mendorong generasi muda lebih banyak mengonsumsi alkohol melalui kampanye "Sake Viva!", selain untuk semakin memajukan industri minuman di negara itu, dikutip dari BBC, Kamis (18/8).

"Sake Viva!" adalah sejenis kontes yang meminta anak-anak berusia 20 hingga 39 tahun untuk berbagi ide bisnis mereka untuk meningkatkan permintaan minuman beralkohol seperti sake Jepang, shochu, wiski, bir, atau anggur.

Penyelenggara ingin para kontestan memiliki ide promosi, branding, dan bahkan rencana mutakhir yang melibatkan kecerdasan buatan.

Para kontestan memiliki waktu hingga akhir September untuk menyampaikan ide-ide mereka. Rencana terbaik kemudian akan dikembangkan dengan bantuan para ahli sebelum proposal final dipresentasikan pada November.

Penurunan penjualan alkohol di Jepang disebabkan oleh munculnya kebiasaan baru warga yang terbentuk selama pandemi Covid dan populasi yang semakin menua serta menurunnya tingkat kelahiran.

Angka terbaru dari badan pajak menunjukkan data orang minum alkohol pada 2020 lebih sedikit dibandingkan pada tahun 1995, di mana terjadi penurunan signifikan dari 100 liter (22 galon) konsumsi alkohol per tahun menjadi 75 liter (16 galon).

Pendapatan pajak dari minuman beralkohol juga menyusut selama bertahun-tahun. Menurut surat kabar The Japan Times, pajak alkohol hanya 5 persen dari total pendapatan pada tahun 1980, tetapi pada tahun 2020 hanya berjumlah 1,7 persen.

Bank Dunia memperkirakan hampir sepertiga (29 persen) penduduk Jepang berusia 65 tahun ke atas - proporsi tertinggi di dunia. [pan]