Jepang Hadapi Gelombang Keempat Pandemi Covid-19, Olimpiade Tokyo 2020 Kembali Dipertanyakan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020 terancam kembali dibatalkan. Kejuaraan multieven olahraga empat tahunan itu sebelumnya terpaksa ditunda selama setahun akibat pandemi virus Corona Covid-19.

Olimpiade 2020 seharusnya bergulir mulai Juli mendatang. Namun peningkatan kasus Covid-19 di Jepang memberikan kekhawatiran bagi banyak pihak untuk tetap melaksanakannya sesuai jadwal.

Salah seorang politisi ternama di Jepang, Toshihiro Nikai, meminta agar ajang ini kembali ditunda bila kasus Covid-19 tidak kunjung mereda. Sekjen partai Liberal Democratic itu tidak ingin, Olimpiade Tokyo 2020 yang akan dimulai pada 23 Juli mendatang membuat penyebaran virus semakin parah.

"Kalau memang tidak memungkinkan, sebaiknya dihentikan," kata Nikai seperti dilansir dari Metro.

"Apa artinya Olimpiade kalau harus bertanggung jawab terhadap penyebaran infeksi," bebernya.

Nikai sebenarnya sadar kalau Olimpiade tahun ini sangat penting artinya bagi Jepang. Karena itu, dia tetap mendukung langkah pemerintah yang tengah berusaha membuat ajang ini tetap aman bagi semua orang. Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, sebelumnya juga telah menjanjikan ha ini.

Memicu Protes

Gambar hitungan mundur menunjukkan angka 100 hari jelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 ditampilkan di Tokyo Skytree yang menyala di Tokyo, Jepang, pada 14 April 2021. (Kazuhiro NOGI / AFP)
Gambar hitungan mundur menunjukkan angka 100 hari jelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 ditampilkan di Tokyo Skytree yang menyala di Tokyo, Jepang, pada 14 April 2021. (Kazuhiro NOGI / AFP)

Lalu bagaimana dengan warga lokal? Belakangan dukungannya mulai berkurang. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Kyodo Newes menyebutkan 39,2 persen responden setuju agar Olimpiade Tokyo dibatalkan. Sementara 32,8 persen lainnya berharap kegiatan akbar itu kembali dijadwal ulang.

Kekhawatiran meningkat di tengah gelombang keempat penyebaran virus Corona Covid-19 yang menimpa Jepang yang ditandai lonjakan kasus mencapai 500 ribu di akhir pekan lalu. Akibatnya, sejumlah prefektur memberlakukan aturan ketat dan menutup rumah makan dan bar.

Proses vaksinasi di Jepang juga terbilang lambat, yakni baru mencapai 1 persen dari total polulasinya. Situasi ini pun semakin membuat warga khawatir hingga menimbulkan gelombang protes di jalan.

Olimpiade Aman dan Terjamin

Perdana Menteri Suga juga telah menjanjikan lebih banyak vaksin yang akan diberikan kepada masyarakat. Sementara panitia penyelenggara dalam pernyataannya kepada CNN, menyampaikan, mereka sedang bersiap untuk mengadakan 'Olimpiade yang aman dan terjamin meski tanpa vaksin.

'Di sisi lain, kami berharap vaksin akan diberikan dengan benar di dalam dan luar negeri dan karena itu, infeksi akan berkurang secara keseluruhan," bunyi pernyataan resmi pihak penyelenggara.

Saksikan juga video menarik di bawah ini