Jepang izinkan beberapa penumpang kapal turun untuk lanjutkan karantina

Yokohama (AFP) - Jepang pada Jumat mulai mengeluarkan izin bagi para penumpang manula, yang dinyatakan negatif mengidap virus corona, untuk meninggalkan kapal yang dikarantina dan menyelesaikan pengisolasian mereka di beberapa penginapan yang ditunjuk pemerintah.

Pemerintah Jepang telah memberi kesempatan para penumpang berusia lebih dari 80 tahun dengan kesehatan buruk, atau yang berada di kabin tanpa jendela di Diamond Princess, untuk turun dari kapal tersebut dan tinggal di tempat penginapan di darat.

Namun, hanya mereka yang dinyatakan negatif mengidap virus yang diberi pilihan untuk pindah. Virus tersebut sudah menulari lebih dari 200 orang di kapal tersebut.

Rombongan pertama meninggalkan kapal pesiar itu pada Jumat sore dengan menaiki bus-bus berjendela gelap.

Di belakang kemudi, sopir mengenakan jas putih pelindung dari ujung kepala sampai ujung kaki, lengkap dengan kacamata dan masker.

Seorang pejabat pemerintah mengatakan 11 orang sudah berangkat. Tapi, ia menolak menerangkan lebih jauh apakah ada tambahan orang yang akan berangkat pada Jumat.

Izin itu diberikan satu hari setelah jumlah orang yang didiagnosis tertular di kapal itu meningkat menjadi 218.

Pejabat senior kementerian kesehatan Gaku Hashimoto naik ke kapal pada Jumat pagi untuk mengumumkan bahwa semua penumpang "yang kondisi kesehatannya dianggap berisiko tinggi" sekarang akan diperiksa untuk melihat kemungkinan tertular virus.

"Mereka yang hasil tesnya positif akan dipindahkan ke rumah sakit. Mereka yang tesnya negatif akan, atas permintaan orang yang bersangkutan, diturunkan dan dipindahkan ke akomodasi yang disediakan oleh pemerintah," katanya dalam sebuah pernyataan dalam bahasa Inggris, yang dibacakan oleh kapten kapal dalam siaran publik.

"Kami menyadari bahwa banyak orang khawatir dan prihatin dengan situasi ini. Namun, untuk meningkatkan kondisi sebaik mungkin, pemerintah melakukan upaya terbaiknya," bunyi pernyataan itu.

Ada lebih dari 3.700 orang di kapal ketika tiba di lepas pantai Jepang minggu lalu. Namun, mereka yang didiagnosis mengidap virus telah dikeluarkan dari kapal, demikian pula beberapa lainnya yang mengalami masalah kesehatan dan memerlukan perhatian medis.

Sepuluh di antara mereka yang dirawat di rumah sakit saat ini berada dalam kondisi serius, kata Menteri Kesehatan Katsunobu Kato, Jumat.

Di luar kasus-kasus di kapal dan satu petugas karantina yang terinfeksi, pihak berwenang Jepang sejauh ini mendiagnosis 33 orang mengidap virus tersebut, yang sekarang dinamai COVID-19.

Kasus-kasus baru yang telah didiagnosis termasuk seorang perempuan berusia 80 tahun-an, yang hasil tesnya keluar setelah ia meninggal di rumah sakit.

Perempuan tersebut dilaporkan merupakan ibu mertua seorang sopir taksi di Tokyo, yang juga telah didiagnosis mengidap virus itu.

Seorang dokter di prefektur Wakayama dan satu pasien yang dirawat di rumah sakit tempat dokter itu bekerja, juga didiagnosis positif terkena virus.

Beberapa pejabat di daerah tersebut mengatakan mereka masih belum merasa jelas apakah dokter tersebut terinfeksi pasien itu.

"Sulit melacak dari mana infeksi itu muncul," kata gubernur Yoshinobu Nisaka kepada wartawan.

Ia mengatakan para petugas sedang meminta masyarakat setempat "untuk melaporkan kasus pneumonia sehingga kami bisa secara langsung melakukan pengujian".

Rumah sakit tersebut sudah ditutup bagi para pengunjung dan staf medis sekarang juga diperiksa atas kemungkinan tertular virus, tamah Nisaka.

Meskipun ada kasus-kasus penularan baru, pejabat pemerintah berusaha mengecilkan kekhawatiran tentang penyebaran virus di Jepang.

"Tidak ada bukti epidemiologis yang cukup untuk menunjukkan bahwa wabah itu sedang menyebar di Jepang," kata juru bicara pemerintah Yoshihide Suga kepada wartawan.

"Kami akan terus mengumpulkan informasi menyangkut wabah itu termasuk dari mana infeksi itu berasal."

Diamond Princess telah dikarantina di perairan Jepang sejak awal Februari setelah seorang mantan penumpang, yang turun dari kapal itu di Hong Kong, dinyatakan positif terkena virus.

Karantina akan berakhir pada 19 Februari. Orang-orang yang berada di kapal sebagian besar dikurung di kabin mereka dan diminta untuk memakai topeng dan menjaga jarak dari penumpang lain saat keluar sebentar di geladak terbuka.

Para awak kapal telah menyatakan khawatir bahwa lingkungan mereka, termasuk kabin, kamar mandi dan ruang kerja bersama, membuat mereka menghadapi risiko lebih besar tertular virus.

Pada Jumat sore, kru membagikan iPhone kepada para penumpang kapal dan kapten mengatakan seperangkat telepon seluler itu merupakan kiriman pemerintah Jepang.

"Kami mendistribusikan iPhone ke semua kabin, dipenuhi dengan aplikasi ... (itu) akan membantu Anda mendapatkan bantuan medis. Instruksi lengkap akan didistribusikan bersama dengan ponsel," katanya.

Jepang telah mengevakuasi ratusan warganya dari Hubei, provinsi China, tempat virus itu muncul. Sementara itu, beberapa pejabat mengatakan penerbangan kelima akan dikirim untuk membawa pulang para warga Jepang pada Minggu.