Jepang Punya Patung Anjing Hachiko, Manado Kuda Ricardo

Laporan Wartawan Tribun Manado,  Robertus Rimawan P

Apa kisah patung kuda di perempatan Perkamil? Di Jepang, patung anjing Hachiko dikenang sebagai lambang kesetiaan seekor anjing, ia terus menunggu majikannya di Stasiun Shibuya, Tokyo, meski Profesor Hidesaburo Ueno, majikannya telah meninggal.

SEDANGKAN patung kuda bercerita tentang kesetiaan seekor kuda yang selalu mendulang juara, membawa nama Sulawesi Utara di tingkat nasional. Rebecca Polii (72), warga Paal II Lingkungan I Perkamil Manado menceritakan kisah patung kuda yang telah berdiri kokoh di perempatan beberapa dasawarsa ini.


"Kuda itu bernama Ricardo atau disebut juga Primadona. Di sebut primadona karena selalu menjadi juara dalam setiap perlombaan, bahkan mengharumkan nama Sulawesi Utara," ujarnya.


Rebecca yang sebelumnya merantau ke Jawa dan kembali ke Manado pada tahun 1967, dan sekitar tahun 1968 patung kuda pertama berdiri. "Awalnya patung Ricardo besar seperti kuda asli, sangat besar, beda dengan sekarang, kecil," ujarnya.


Patung tersebut menjadi pengingat kuda Ricardo jadi primadona ketika dilombakan dimana saja selalu menang. "Kuda tersebut dimiliki oleh peranakan Cina, namun akhirnya dijual karena kondisi keuangan. Dibangunnya patung kuda tersebut menandai juga kejayaan area pacuan kuda," jelasnya.


Pacuan kuda Perkamil diresmikan oleh Hein Victor Worang Gubernur Sulawesi Utara periode 1967-1978. Sejak diresmikannya pacuan kuda tersebut menurut Rebecca mengubah kehidupan masyarakat sekitar.


Lahan pacuan kuda yang sebelumnya merupakan bekas perkebunan kelapa oleh prakarsa Alex Kawilarang menurutnya diubah menjadi area pertandingan bagi kuda-kuda bahkan tingkat nasional.


Pacuan kuda tersebut akhirnya berakhir sekitar tahun 1980 karena lahan yang digunakan milik perorangan dan pindah di Tompaso Minahasa. "Patung kuda Ricardo juga melambangkan perubahan kultur dan perekonomian masyarakat sekitar," katanya.

Karena pacuan kuda sudah tak ada, patung tersebut menjadi pengingat masyarakat yang awalnya menjadi petani dan buruh berubah menjadi wirausahawan.
Banyak ibu rumah tangga yang berjualan nasi atau makanan ketika pacuan kuda Perkamil sedang berjaya. Bahkan banyak pengangguran yang akhirnya mahir berkuda atau bekerja sebagai pengurus kuda.


Meity Ruru (45), cucu Rebecca masih ingat, ketika dulu usia SD selalu diajak ibunya Yoke Stans Rumangu (59), untuk duduk-duduk atau bersantai di patung kuda.


"Dulu selain patung kudanya besar, ada piala di samping kuda, area patung juga besar dan menggunakan pagar," jelasnya.


Ia mengisahkan usai mandi, selalu diajak ke patung kuda, agar mudah makan disuapin ibunya di area patung tersebut.


Zaman berubah, patung tersebut menurutnya dipugar sekitar tahun 1980, bersamaan dengan tak beroperasinya pacuan kuda juga pelebaran jalan di perempatan tersebut, dan akhirnya patung kuda menjadi lebih kecil seperti saat ini.


Terkait kepemilikan kuda, Yoke Stans menambahkan, sebelum dimiliki oleh peranakan Cina, pemilik pertamanya bernama Lexie Gosal.


"Pemilik pertama bahkan memiliki hotel di sekitar Winangun, dinamai Hotel Ricardo, kini hotel tersebut sudah tidak ada seiring dengan meninggalnya pemilik hotel," katanya.
Patung kuda dimata Yoke merupakan identitas, setiap kerabat yang bertanya dimana lokasi bertemu atau letak rumah dimana selalu diawali dengan 'dari patung kuda sebelah mana'.


"Jangan sampai digusur, patung ini tak boleh digusur, karena bukti kejayaan Sulawesi Utara," imbuhnya.


Patung kuda baginya merupakan sejarah hidup, suka duka membesarkan anak-anaknya teriringi dengan kokohnya patung kuda Ricardo. Kadis Tata Ruang Kota Manado, Ir Revind Lewan juga menegaskan, patung-patung yang dibangun memiliki legenda dan filosofinya masing-masing.


"Patung kuda pada tahun tertentu menjadi bukti Manado pernah menjadi juara Suharto Cup, juga pernah memiliki pacuan kuda," katanya.


Ia mencontohkan jalan masuk ke Taman Kesatuan Bangsa ada pula waruga atau kubur batu, dan tetap dilestarikan.


"Itu situs-situs aset pariwisata apalagi dicanangkan Manado kota pariwisata," jelasnya.
Situs-situs atau patung menggambarkan tokoh, seperti Walanda Maramis, Sam Ratulangi, juga patung-patung lainnya ia tegaskan bila ada rencana penggusuran, perlu kajian matang.
Meski demikian, ia mengimbau jangan terlalu mengkultuskan suatu benda.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.