Jeritan Pekerja PBB di Afghanistan, Alami Pelecehan dan Intimidasi

·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang wanita Afghanistan, yang telah bekerja untuk PBB selama beberapa tahun, mengatakan kepada Reuters bahwa dia merasa ditinggalkan. "Kami dalam bahaya."

"Setiap wanita yang saya kenal memiliki ketakutan yang sama seperti saya. Apa yang sekarang akan terjadi pada anak-anak kita jika kita dihukum karena pekerjaan kita? Apa yang akan terjadi pada keluarga kita? Apa yang akan mereka lakukan pada kita sebagai wanita?" katanya sembari menegaskan enggan disebutkan identitasnya, sebagaimana dikutip dari Reuters dilansir tvOne, Kamis 26 Agustus 2021.

Sementara seorang pekerja Afghanistan PBB lain, yang enggan disebutkan identitasnya, mengatakan kepada Reuters bahwa dia mengetahui setidaknya 50 staf Afghanistan yang pernah diancam oleh Taliban.

Ia menambahkan, "Staf nasional PBB yang berada di bawah ancaman langsung serius dari Taliban harus dievakuasi."

Seorang wanita Afghanistan lain, yang bekerja di PBB telah pindah rumah bersama suami dan putrinya yang berusia 3 tahun dalam 10 hari terakhir. Beberapa tetangganya tahu dia bekerja di PBB, dan dia khawatir mereka akan memberi tahu dia.

Dia memiliki visa untuk negara tetangga, tetapi frustrasi karena PBB tidak membantunya mengungsi. "Kami mengharapkan seluruh sistem PBB untuk membantu kami. Kami benar-benar mengharapkan itu," kata wanita yang meminta tidak disebutkan identitasnya.

"Kami dalam bahaya. Dan jika kami tidak bisa bekerja, siapa yang akan menjangkau orang-orang?" lanjutnya.

Sementara dalam pesan video kepada staf di Afghanistan pada hari Selasa 24 Agustus 2021, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan dia tertekan oleh laporan bahwa beberapa tenaga PBB telah mengalami pelecehan dan intimidasi.

"Kami melakukan segala daya kami, yaitu melalui keterlibatan permanen dengan semua aktor terkait, dan akan terus melakukannya untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan Anda, dan untuk menemukan solusi eksternal di mana mereka dibutuhkan," kata Guterres.

Ribuan orang telah meninggalkan Afghanistan sejak Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus. Mereka menumpang penerbangan militer dan komersial dari Bandara di Kabul.

Sebagian besar mereka takut akan pembalasan Taliban dan penerapan hukum yang keras, sedangkan sebagian lainnya khawatir menjadi target kekerasan Taliban karena mereka bekerja di bidang advokasi dan hak asasi manusia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel