Jerman soroti pelatih Loew setelah bencana di Spanyol

·Bacaan 3 menit

Berlin (AFP) - Pelatih tim nasional Jerman Joachim Loew menghadapi krisis terbesar dalam 14 tahun masa tugasnya setelah kekalahan bersejarah mereka dari Spanyol dengan para pakar dan media Rabu mempertanyakan apakah dia harus memimpin tim ke putaran final kejuaraan Eropa tahun depan.

Kekalahan 0-6 di Seville pada Selasa itu adalah kekalahan terbesar Jerman selama 89 tahun saat Spanyol sepenuhnya mendominasi pertandingan Nations League di Seville.

Harian Bild blak-blakan dalam penilaiannya, dengan judul liputannya: "Loew harus menawarkan diri untuk mundur."

"Hanya tujuh bulan sebelum Euro, FA Jerman harus menjawab pertanyaan apakah Joachim Loew masih orang yang tepat untuk turnamen," kata surat kabar itu.

Ferran Torres mencetak hattrick brilian saat Spanyol bebas menyerang sementara tim Jerman asuhan Loew hanya memberi sedikit perlawanan saat mereka akhirnya menelan kekalahan terberat sejak kalah 6-0 di Berlin melawan Austria pada 1931.

Loew menepis pertanyaan tentang masa depannya dalam konferensi pers pasca pertandingan.

“Anda harus tanyakan kepada orang lain. Saya tidak bisa menjawabnya secara spontan,” jawab dia ketika ditanya apakah dia khawatir dengan pekerjaannya.

Loew memimpin Jerman meraih Piala Dunia 2014 tetapi pujian dari kesuksesan itu sebagian besar hilang oleh bencana pada putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia ketika Jerman tersingkir dalam fase grup.

Kontrak Loew dengan federasi Jerman berlangsung hingga Piala Dunia 2022 dan dia tampaknya masih mendapat dukungan dari direktur tim Jerman Oliver Bierhoff.

"Keyakinan benar-benar ada di sana," Bierhoff bersikeras setelah kekalahan itu, tetapi ia menjanjikan akan melakukan "analisis mendalam".

Bierhoff menunjuk susunan pemain pada pertandingan Selasa yang berisi pemain veteran Manuel Neuer, Ilkay Gundogan dan Toni Kroos sebagai bukti bahwa "kurangnya pengalaman para pemain bukanlah alasan".

Bastian Schweinsteiger, yang memenangkan Piala Dunia 2014 di bawah Loew, merasa ngeri dengan performa itu.

"Rasanya tidak seperti sebuah tim - tidak ada komando di barisan Jerman", kata pemain berusia 36 tahun itu, yang sekarang bekerja sebagai pakar untuk media.

"Anda hanya mendengar suara bahasa Spanyol. Anda harus mengubah sesuatu. Tim nasional Jerman tidak bisa bermain seperti itu.

"Ada nilai-nilai tertentu, yang tidak saya lihat di lapangan."

Surat kabar yang berbasis di Munich Sueddeutsche Zeitung mengatakan penghinaan di Spanyol harus memicu perdebatan "Berapa lama lagi bersama Jogi Loew?".

"Kegagalan di Seville jelas akan memiliki konsekuensi," kata Express yang berbasis di Cologne. "Apakah Joachim Loew masih menjadi pelatih yang tepat untuk tim nasional?"

Schweinsteiger menghidupkan kembali perdebatan tentang apakah tiga pemain veteran lainnya yang Loew telah absen dari tim nasional - Mats Hummels dan pasangan pemenang Liga Champions Bayern Munich Jerome Boateng dan Thomas Mueller - harus dipanggil kembali.

Loew memberi tahu ketiganya pada 2019 bahwa karier mereka di Jerman telah berakhir, namun ketiganya saat ini dalam performa terbaik untuk klub mereka.

"Ini adalah tim Jerman, harus mempertemukan para pemain terbaik," kata Schweinsteiger, seraya menambahkan Mueller dan Boateng akan berada di timnya untuk Euro 2020 jika dia menjadi pelatih.

"Pelatih punya pendapat sendiri tentang ini, saya punya pendapat lain," tambahnya.

Bahkan Neuer, kapten tim dan penjaga gawang yang rekor penampilan internasionalnya ke-96 adalah satu hal yang ingin dia lupakan, mengisyaratkan ketiganya harus kembali.

"Saya tidak ingin menyoroti salah satu dari tiga nama yang disebutkan: semua pemain pada prinsipnya dapat membantu kami, mereka telah cukup sering membuktikannya," kata Neuer kepada majalah Sport Bild.

Waktu hampir habis bagi Loew untuk membuktikan bahwa dia bisa membalikkan keadaan sebelum putaran final Euro 2020, yang ditunda dari tahun lalu, dimulai pada bulan Juni.

"Jalan yang diambil pelatih nasional, saya akan menindaklanjuti dan termasuk Kejuaraan Eropa," kata Bierhoff kepada surat kabar Frankfurt FAZ.

cpb-ryj/gj