Jessica Iskandar Laporkan Penyidik, Polda Bali Tunggu Instruksi Propam

Merdeka.com - Merdeka.com - Artis Jessica Iskandar mendatangi Gedung Divisi Propam Polri, melaporkan dugaan sikap tidak profesional dan arogansi penyidik Ditreskrimum Polda Bali berinisial FAA. Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto menuturkan, saat ini pihaknya menunggu perkembangan dari Propam.

"Jessica Iskandar, kan melapornya di Divisi Propam Mabes Polri. Terkait hal itu nanti di sini menunggu saja, menunggu penyampaian dari sana apa yang dilaporkan terhadap hal itu," kata Stefanus saat dihubungi, Selasa (13/9).

Stefanus juga menyampaikan bahwa Polda Bali juga belum melakukan pemeriksaan terhadap FAA. "Belum dilakukan pemeriksaan. Dan biasanya nanti ada perintah atau informasi dari Mabes Polri terkait yang dilaporkan itu ke Bali. Kan masih dilaporkan di Jakarta. Nanti kalau sudah disampaikan ke kita, baru ditindaklanjuti," ujarnya.

Bila nanti laporan tersebut diteruskan atau diserahkan kepada Polda Bali, Stefanus menjelaskan baru akan dilakukan pemeriksaan kepada yang bersangkutan.

"Jadi Polda Bali menunggu instruksi dari Propam Mabes, apakah akan turun langsung atau menyerahkan ke Propam Polda Bali. Iya (dilakukan pemeriksaan). Misalnya, kan laporan di Mabes, kemudian dari Propam Mabes, apakah akan turun langsung atau mereka (menyerahkan) ke Polda Bali, kita belum tahu," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, Jessica Iskandar mendatangi Divpropam, Mabes Polri mencari keadilan terkait dugaan ketidakprofesionalan dan arogansi yang bernisial FAA usai mobilnya disita dan dipakai.

"Hari ini, tanggal 12 hari Senin kita merilis bahwa kita mengadukan di Divpropam Mabes Polri terkait dugaan ketidakprofesionalan dan dugaan arogansi dari penyidik Ditreskrimum Polda Bali yang inisial FAA selaku TS Kanit di Direskrimum Polda Bali," kata pengacara Jessica Iskandar, Roland E Potu.

Ronald pun menyebut polisi itu dilaporkan karena mobil kliennya disita namun tidak sesuai prosedur. Sehingga pihak Jessica merasa ada yang janggal dan tak adil.

"Mengapa kita mengadukan, karena pada tanggal tujuh Juni penyidik Ditreskrimum mendatangi rumah klien kami yaitu Vila Jedar di Denpasar, Bali dengan meminta Toyota Alphard milik klien kami. Meminta untuk diamankan bahasanya. Tetapi di situ kami hanya menerima surat tanda penerimaan. Di mana dalam surat tanda penerimaan surat tersebut tidak print sita," beber Roland.

"Harusnya mengambil barang bukti itu didahului oleh print sita juga dan itu dilakukan rangkaian penyidikan bukan penyelidikan, tapi di sini hanya berdasarkan surat perintah lidik. Hanya kita memohon adanya penegakan hukum harus adil dan tidak memihak. Oleh karenanya, kami sempat menyurati Polda Bali," ujarnya. [cob]