JICA apresiasi Kementan terkait Program Asuransi Pertanian

·Bacaan 3 menit

Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) mengapresiasi Program Asuransi Pertanian yang diinisiasi Kementerian Pertanian karena dinilai berperan penting dalam mendukung petani kecil dan menjaga ketahanan pangan dengan meningkatkan daya tahan petani.

Chief Representative of JICA Indonesia Office Shigenori Ogawa dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa, mengatakan kerja sama dengan Kementan terkait asuransi telah dimulai sejak 2013 dengan menambah subkomponen adaptasi iklim dalam Proyek Strategi Perubahan Iklim di Indonesia.

Dia mengatakan pihaknya telah mendukung Kementan dalam uji coba asuransi berbasis ganti rugi yaitu Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang telah berkontribusi ke pelaksanaan skala besar AUTP sejak 2015.

"Selama 10 tahun terakhir, pemerintah Indonesia dan JICA telah bekerja sama memperkuat skema asuransi pertanian di Indonesia. Kami percaya bahwa asuransi pertanian berperan penting dalam mendukung petani kecil dan menjaga ketahanan pangan dengan meningkatkan daya tahan petani terhadap perubahan iklim dan risiko-risiko lainnya," kata Ogawa.

Baca juga: Mentan tekankan pentingnya penguatan pangan hadapi perubahan iklim

Lebih lanjut, ia mengapresiasi terhadap komitmen Kementan dalam proyek Pengembangan Kapasitas untuk Pelaksanaan Asuransi Pertanian.

Selama ini, Ogawa menjelaskan kerja sama JICA dan Kementan mampu menciptakan desain dan uji coba skema asuransi baru, termasuk pengumpulan data panen historis, analisis kerangka pelaksanaan yang tepat untuk jenis produk asuransi, dan sosialisasi kepada para penyuluh dan petani tentang asuransi.

"Kami telah banyak berdiskusi dan berkonsultasi untuk mendesain dan mengujicobakan asuransi indeks panen baru di Indonesia. Berkat komitmen dan kerjasama dari Kementan dan para pemangku kepentingan lainnya, kita telah memulai kegiatan ujicoba di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat sejak tahun lalu, dan tahun ini, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, akan ikut dalam uji coba," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan bahwa sejak 2015 luas sawah dan jumlah petani yang dilindungi asuransi pertanian terus meningkat.

Program ini juga dianggap sukses melindungi petani dari ancaman kerugian. Untuk itu, Syahrul mengatakan kinerja asuransi pertanian wajib untuk ditingkatkan, baik dari jumlah petani maupun luas lahan yang dilindungi.

"Asuransi merupakan solusi menghadapi tantangan iklim saat ini, kita tahu bahwa musibah itu bagian dari kehidupan yang tidak bisa kita hindari, jadi orang modern itu harus kenal asuransi, sosialisasi asuransi ini harus masif, lahan kita ada 7 juta hektare lebih, paling tidak 5 persen diantaranya ada kemungkinan untuk bersoal," kata Syahrul.

Baca juga: Mentan dorong pemuda kreatif-inovatif di sektor pertanian

Selain upaya peningkatan produksi melalui mekanisasi pertanian, lanjut Mentan, perlindungan terhadap petani juga menjadi hal penting dalam meningkatkan produktivitas pangan. Perlindungan petani dalam menjalankan usaha taninya melalui program AUTP merupakan pendekatan baru yang harus didukung dan diperkuat.

"Kita pikirkan lebih matang lagi agar rakyat hidup lebih baik dari pertanian, lima bulan ini kita adakan gugus tugasnya, JICA kami minta untuk asistensi dan masukan-masukan agar performa asuransi pertanian ini dapat lebih baik. Kami mohon kerjasamanya agar program pembiayaan untuk petani ini dapat lebih baik lagi," kata Syahrul.

Sebagai informasi, program AUTP di Indonesia merupakan hasil rancangan Pemerintah Indonesia dan JICA sejak tahun 2008 hingga 2013 di Provinsi Bali, Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Jawa Timur. Kementerian Pertanian kemudian mengimplentasikan program Asuransi Pertanian sejak tahun 2015 hingga 2021.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, pengembangan Asuransi Pertanian di Indonesia, khususnya AUTP sangat berkembang pesat. Sejak 2015 sampai dengan 2021, kepesertaan tiap tahunnya meningkat.

Tahun 2015 tercatat lahan seluas 233.000 hektare mengikuti AUTP dengan jumlah petani 401.408 orang di 125 Kabupaten. Jumlah itu meningkat pada 2021 hingga mencakup tanah seluas 400.000 hektare dengan jumlah petani 619.700 di 201 Kabupaten.

Baca juga: Antisipasi gagal panen, petani diminta manfaatkan asuransi pertanian

Baca juga: Peneliti: Asuransi pertanian penting di daerah rawan bencana

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel