Jika Harga Pertalite Naik Jadi Rp10.000, Pertumbuhan Ekonomi Terpangkas 0,17 Persen

Merdeka.com - Merdeka.com - Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan bahwa dampak dari kenaikan harga BBM subsidi yang tengah direncanakan pemerintah cukup besar. Ini karena tidak hanya berdampak pada putaran pertama pada inflasi administered price, tetapi juga berdampak pada putaran kedua pada transportasi serta barang dan jasa lainnya.

Jika harga Pertalite dinaikkan dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter, maka akan meningkatkan inflasi sebesar 0,83 persen poin. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi berpotensi terpangkas sebesar -0,17 persen poin.

Selain itu, jika harga Solar naik dari Rp5.150 per liter menjadi Rp8.500 per liter, maka akan memberikan kontribusi kenaikan inflasi sebesar 0,33 persen poin. Ini berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar -0,07 persen poin.

"Indikasi ini bisa berpengaruh terhadap tingkat inflasi di tahun 2022 bisa lebih tinggi dari perkiraan saat ini sebesar 4,60 persen dan berpotensi menuju sekitar 6 persen," jelasnya.

Meski harga BBM belum naik, dampaknya sudah mulai terasa ke nilai tukar Rupiah. Kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) ditutup melemah 13 poin di level Rp14.895 per USD pada penutupan perdagangan Jumat sore (2/9).

Sedangkan untuk Senin (5/9), mata uang Rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatuf namun ditutup melemah di rentang Rp 14.880 hingga Rp 14.930 per USD.

Ibrahim mengatakan, pelemahan nilai tukar Rupiah pada penutupan perdagangan hari ini akibat dampak dari rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi jenis Pertalite maupun. Sehingga, pasar terus memantau tentang risiko meningkatnya tekanan inflasi yang perlu diantisipasi di tengah rencana kenaikan harga BBM subsidi tersebut.

"Walaupun sampai hari ini Pemerintah belum mengumumkan tentang kenaikan BBM bersubsidi, karena belum adanya kekompakan antara pemerintah dan polisi dalam menangani demonstrasi yang marak saat ini," ujar Ibrahim di Jakarta, Jumat (2/9).

Pengaruh Eksternal

Dari sisi eksternal, lanjut Ibrahim, pelemahan nilai tukar Rupiah turut dipengaruhi oleh rencana Bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.

Upaya ini untuk mendukung kelanjutan kenaikan suku bunga agresif dari The Fed untuk memberikan keuntungan bagi dolar AS atau USD.

"Pasar berjangka telah memperkirakan kemungkinan 75 persen The Fed akan menaikkan 75 basis poin pada pertemuan kebijakan September," tutupnya. [idr]