Jika Iwan Bule Mundur dari PSSI, yang Menggantikan Iwan Budianto

·Bacaan 2 menit

VIVA – Founder Football Institute, Budi Setiawan menyoroti curahan hati Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan kepada Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Hasani Abdulgani.

Iwan Bule (sapaan akrab Mochamad Iriawan) mengaku punya penyesalan menjadi Ketum PSSI. Penyebanya karena tak lama setelah ia terpilih, pandemi COVID-19 melanda, melumpuhkan sepakbola Indonesia.

Sehingga, di masa kepemimpinannya, tak banyak kegiatan sepakbola yang bisa berjalan. Sebut saja Liga 1 2020 yang harus dihentkan ketika baru berjalan tiga pekan. Liga 1 2021 pun bergulir dengan banyak drama, setelah berkali-kali mengalami penundaan,

Bukan cuma di level klub, agenda Timnas pun menjadi kacau balau. Mulai dari pembatalan Piala Dunia U-20 2021, Kualifikasi Piala Dunia 2022, Piala AFF 2020, hingga Piala Asia 2023.

"Kondisi yang terjadi saat ini dengan pandemi, sampai-sampai membuat ketum mengeluh ke saya. Katanya, 'Aduh kalau seperti ini dulu kita nggak usah menjadi pengurus PSSI," kata Hasani kepada wartawan, baru-baru ini.

"Karena kita dimarahi (oleh publik), seakan-akan masyarakat tidak peduli kalau COVID-19 sedang berlangsung. Mereka menuntut dan bertanya kenapa timnas begini kenapa begitu," sambungnya.

Menanggapi hal ini, Founder Football Institute, Budi Setiawan mengatakan, pergantian ketua umum PSSI di tengah periode bukanlah hal baru, statuta PSSI pun sudah sangat solid mengatur perihal organisasi.

Budi menjelaskan, jika Iwan Bule mundur dari jabatannya, secara aturan, Iwan Budianto yang punya hak menggantikan.

Hal itu tertera dalam statuta yakni: Jika ketua umum PSSI mundur atau berhalangan tetap, maka digantikan oleh wakil ketua umum PSSI tertua. Istilahnya wakil ketua umum PSSI paling senior dalam hal masa jabatan di PSSI. Jadi jika Iwan Bule mundur maka Iwan Budianto akan melanjutkan kepemimpinan di PSSI.

"Itu hak-nya Iwan Budianto. Dari kasus ini, catatan saya ada dua. Pertama bahwa dari pembicaraan Hasani kepada pers itu juga tidak bisa terhindarkan bahwa publik bisa menilai personalitas ketum PSSI. Dan secara moral tidak etis ketum bicara merasa ketiban sial utk jabatan yang dulu dia idam-idamkan serta diamanahkan 82 dari 86 voters yg memilihnya," kata Budi Setiawan, Sabtu 28 Agustus 2021.

"Kedua, Hasani sebagai anggota Exco telah melampaui kewenangannya dengan mengumbar pembicaraan tersebut. Hal ini tentunya tidak elok, Exco PSSI dimungkinkan untuk bersikap tegas terhadap Hasani, secara etik Tindakan Hasani tidak tepat," jelasnya.


Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel