JK harap R20 lahirkan akselerasi perdamaian dunia

Wakil presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla berharap Forum Religi G20 atau Religion Forum of Twenty (R20) dapat berperan dalam percepatan perwujudan perdamaian di dunia.

"Kita berharap pertemuan ini bisa menghasilkan saling menghormati satu sama lain, antarumat beragama, demi menciptakan akselerasi agar menjaga kedamaian dalam hidup ini," kata JK saat menghadiri R20 di Nusa Dua, Bali, Rabu.

JK menambahkan bahwa sikap toleransi tidak hanya untuk antarumat beragama, tetapi juga sesama manusia dengan agama yang serupa juga harus saling menghargai.

"Sebutlah Arab Saudi dan Yaman. Jadi, dalam sesama agama itu saja, itu juga kadang ada masalah. Jadi, yang sama agama pun perlu juga untuk saling menghargai," kata Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Oleh karena itu, JK mengingatkan agar Forum R20 dapat memberikan rekomendasi terkait dengan toleransi serta mewujudkan perdamaian dan persaudaraan.

"Perdamaian itu persaudaraan, kemudian toleransi itu saling menghormati, dan itu yang perlu kita hasilkan di sini," katanya.

Terkait dengan masalah di Indonesia, menurut JK, konflik antarumat beragama bisa terjadi karena ada sikap merasa paling benar oleh kelompok tertentu.

Ia lantas mencontohkan saat konflik di Ambon yang menyebabkan terjadinya pembakaran terhadap rumah-rumah ibadah, baik masjid maupun gereja.

"Jadi, mereka membakar (rumah ibadah) seakan-akan benar dan imbalannya adalah surga. Makanya, saya katakan bahwa siapa yang membakar rumah ibadah atau saling membunuh, itu adalah neraka," ujarnya.

Dengan menghindari sikap merasa paling benar, JK yakin akan tercipta perdamaian sesuai yang dicita-citakan umat manusia.

R20 dibuka dengan ditandai menabuh rebana tamborin di atas panggung oleh sejumlah pejabat dan tokoh agama, seperti dari Indonesia diwakili Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf.

Baca juga: Dubes Vatikan: Ekstremisme harus ditolak dengan cara paling tegas
Baca juga: Jokowi ajak tokoh agama berkontribusi untuk kurangi rivalitas dunia