Joe Biden Bayar Intelijen AS Usut Asal Usul COVID-19, Ini Respons China

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Washington - Mempolitisasi asal-usul COVID-19 akan menghambat penyelidikan lebih lanjut dan merusak upaya global untuk mengekang pandemi, kata kedutaan besar AS di China setelah mengetahui Presiden Joe Biden telah memerintahkan intelijen Amerika Serikat mencari tahu asal usul virus tersebut.

Kedutaan China di Washington mengatakan dalam sebuah pernyataan di situsnya; "beberapa kekuatan politik telah terpaku pada manipulasi politik dan permainan yang salah."

Ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersiap untuk memulai studi fase kedua tentang asal-usul COVID-19, China berada di bawah tekanan untuk memberi penyelidik lebih banyak akses di tengah tuduhan bahwa SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium yang mengkhususkan diri dalam penelitian virus corona di kota Wuhan.

China telah berulang kali membantah laboratorium itu bertanggung jawab, dengan mengatakan Amerika Serikat dan negara lain berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalan mereka sendiri untuk menahan virus.

Joe Biden mengatakan pada Rabu (25/5) bahwa badan intelijen AS 'terpecah' tentang kajian apakah COVID-19 "muncul dari kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi atau dari kecelakaan laboratorium."

Yanzhong Huang, rekan senior untuk kesehatan global di Council on Foreign Relations di Washington, mengatakan kurangnya keterbukaan China adalah faktor utama di balik kebangkitan teori kebocoran laboratorium. "Tidak ada yang benar-benar baru di sana untuk membuktikan hipotesis tersebut," katanya.

"Dalam penyelidikan asal muasal pandemi, sangat penting memiliki transparansi untuk membangun kepercayaan pada hasil penyelidikan."

Studi Komprehensif

Penumpang yang mengenakan pakaian pelindung berkumpul di luar Stasiun Hankou, Wuhan, Provinsi Hubei, China, Rabu (8/4/2020). Setelah 11 minggu lockdown, layanan kereta di kota yang menjadi titik awal pandemi virus corona COVID-19 ini kembali beroperasi. (AP Photo/Ng Han Guan)
Penumpang yang mengenakan pakaian pelindung berkumpul di luar Stasiun Hankou, Wuhan, Provinsi Hubei, China, Rabu (8/4/2020). Setelah 11 minggu lockdown, layanan kereta di kota yang menjadi titik awal pandemi virus corona COVID-19 ini kembali beroperasi. (AP Photo/Ng Han Guan)

Kedutaan Besar China mengatakan mendukung "studi komprehensif dari semua kasus awal COVID-19 yang ditemukan di seluruh dunia dan penyelidikan menyeluruh ke beberapa pangkalan rahasia dan laboratorium biologis di seluruh dunia".

Tabloid Global Times, bagian dari kelompok surat kabar People's Daily Partai Komunis yang berkuasa, mengatakan pada Rabu malam bahwa jika "teori kebocoran laboratorium" akan diselidiki lebih lanjut, Amerika Serikat juga harus mengizinkan penyelidik masuk ke fasilitasnya sendiri, termasuk laboratorium di Fort Detrick.

"Sangat jelas mereka mencoba menginternasionalkan jalan keluar dari kemacetan yang mereka hadapi," kata Jamie Metzl, rekan senior di wadah pemikir Dewan Atlantik, yang telah berkampanye untuk penyelidikan independen.

Sebuah studi gabungan China-WHO yang diterbitkan pada Maret 2021 mengatakan bahwa sangat tidak mungkin SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium, menambahkan bahwa kemungkinan besar menyebar dari kelelawar ke manusia melalui spesies perantara yang belum teridentifikasi.

China juga terus menunjukkan kemungkinan bahwa COVID-19 berasal dari negara lain dan masuk melalui makanan beku yang terinfeksi atau melalui jaringan perdagangan satwa liar Asia Tenggara.

"Pandemi dimulai di China," kata Metzl.

Infografis Kejahatan Vaksin Covid-19 Palsu di China

Infografis Kejahatan Vaksin Covid-19 Palsu di China (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Kejahatan Vaksin Covid-19 Palsu di China (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel