Joe Biden Kenang Kematian 500 Ribu Warga AS Akibat COVID-19 dengan Bendera Setengah Tiang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Joe Biden menyampaikan pidato kepada bangsanya ketika AS menandai 500.000 kematian akibat COVID-19, angka terbesar untuk negara mana pun di dunia.

"Sebagai bangsa, kita tidak bisa menerima nasib yang begitu kejam. Kita harus menahan diri untuk tidak mati rasa terhadap kesedihan," katanya.

Melansir BBC, Selasa (23/2/2021), Presiden dan wakil presiden, dan pasangan mereka, mengadakan acara peringatan di luar Gedung Putih selama upacara penyalaan lilin.

Lebih dari 28,1 juta orang Amerika telah terinfeksi, angka ini pun menjadi rekor global lainnya.

"Hari ini saya meminta semua orang Amerika untuk mengingat. Ingat mereka yang hilang dan kita tinggalkan," katanya, menyerukan orang Amerika untuk melawan COVID-19 bersama.

Selain itu, Presiden Biden juga memerintahkan semua bendera di properti federal diturunkan menjadi setengah tiang selama lima hari ke depan.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Jumlah Kematian Lebih Tinggi dari Korban Perang

Gedung Putih mengibarkan Bendera Amerika setengah tiang untuk menandai 500.000 kematian akibat Covid-19 di Washington D.C. pada Senin (22/2/2021). Dengan total kematian melebihi angkat 500.000 kasus, itu berarti satu dari setiap 673 penduduk di AS meninggal karena COVID-19. (AP Photo/Evan Vucci)
Gedung Putih mengibarkan Bendera Amerika setengah tiang untuk menandai 500.000 kematian akibat Covid-19 di Washington D.C. pada Senin (22/2/2021). Dengan total kematian melebihi angkat 500.000 kasus, itu berarti satu dari setiap 673 penduduk di AS meninggal karena COVID-19. (AP Photo/Evan Vucci)

Di Gedung Putih, Biden membuka pidatonya dengan mencatat bahwa jumlah kematian di Amerika Serikat akibat COVID-19 lebih tinggi daripada jumlah kematian akibat Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Vietnam gabungan.

"Kami sering mendengar orang digambarkan sebagai orang Amerika biasa. Tidak ada yang seperti itu," katanya.

"Tidak ada yang biasa tentang mereka. Orang-orang yang hilang dari kami, luar biasa. Mereka menjangkau beberapa generasi. Lahir di Amerika, beremigrasi ke Amerika."

"Begitu banyak dari mereka yang menghembuskan nafas terakhir sendirian di Amerika," lanjutnya.

Joe Biden turut mengambil pengalamannya sendiri dengan kesedihan, ketika istri dan putrinya tewas dalam kecelakaan mobil pada tahun 1972 dan salah satu putranya meninggal karena kanker otak pada tahun 2015.

"Bagi saya, jalan melewati duka dan duka adalah menemukan tujuan," ujarnya dalam pidato.

Pendekatan Biden terhadap pandemi berbeda dengan pendahulunya Donald Trump, yang meragukan dampak virus mematikan dan dipandang telah mempolitisasi penggunaan masker dan tindakan lain untuk mencegah penyebaran virus.

Pada 19 Januari, sehari sebelum Biden menjabat, dia mengadakan acara untuk menandai kematian 400.000 orang Amerika karena penyakit tersebut.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: