Joe Biden Menang, Trump Jadi Segelintir Presiden AS yang Gagal Lanjutkan Periode Kedua

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Washington DC - Donald Trump telah gagal menduduki periode keduanya di Gedung Putih.

Sejak Perang Dunia II, hanya dua presiden lain yang juga gagal meraih jabatan keduanya yakni Jimmy Carter dan George HW Bush.

Melansir Channel News Asia, Minggu (8/11/2020), jaringan TV AS telah menyerukan perlombaan pada Sabtu (7 November) untuk Demokrat Joe Biden meskipun Partai Republik tanpa malu-malu merebut kekuasaan petahana.

Trump mengadakan asi unjuk rasa di seluruh negeri di depan Air Force One, bersikeras untuk memasukkan namanya pada cek stimulus pandemi COVID-19 senilai US $ 150 juta kepada orang Amerika dan menyampaikan pidato konvensi Partai Republik di Gedung Putih.

Tindakannya tersebut memicu tuduhan Trump melanggar Hatch Act, yang membatasi penggunaan pemerintah federal untuk aktivitas politik.

"Ada alasan mengapa tidak biasa bagi petahana untuk dikalahkan. Petahana memiliki kemampuan untuk menggunakan mimbar pengganggu untuk keuntungan mereka; mereka dapat mengubah alur cerita," kata Matt Dallek, sejarawan politik di Universitas George Washington.

"Mereka memiliki semua jebakan Gedung Putih yakni kekuasaan eksekutif, Oval Office, Air Force One. Ini adalah simbol-simbol kuat yang mereka miliki."

Segelintir Presiden AS yang Gagal di Periode Kedua

Presiden Donald Trump berbicara tentang hasil pemilihan presiden AS 2020 di Gedung Putih, Kamis (5/11/2020). Hingga saat ini proses penghitungan suara pemilihan presiden Amerika masih berlangsung, namun perolehan suara Donald Trump maupun Joe Biden masih bersaing ketat. (AP Photo/Evan Vucci)
Presiden Donald Trump berbicara tentang hasil pemilihan presiden AS 2020 di Gedung Putih, Kamis (5/11/2020). Hingga saat ini proses penghitungan suara pemilihan presiden Amerika masih berlangsung, namun perolehan suara Donald Trump maupun Joe Biden masih bersaing ketat. (AP Photo/Evan Vucci)

Trump adalah presiden pertama yang tidak pernah meraih dukungan sebanyak 50 persen dalam jajak pendapat Gallup. Kepemimpinannya pun sangat memecah belah selama hampir empat tahun, dengan penolakan luas terhadap penanganan pandemi, retorika kasarnya, dan skandal pribadi yang tak henti-henti.

George HW Bush, sebaliknya, mendapatkan hampir 90 persen persetujuan saat dia memimpin Perang Teluk pertama pada tahun 1991.

Perbedaannya, kata Dallek, adalah Bush dan Carter gagal menyatukan partainya.

Carter dan George HW Bush menghadapi tantangan utama dari kiri dan kanan partai masing-masing yang melemahkan mereka menuju pemilihan umum.

Demikian pula, Lyndon Johnson yang secara teknis tidak kalah dalam pemilihan tetapi tiba-tiba memutuskan untuk tidak mengajukan masa jabatan penuh kedua pada tahun 1968 lantaran dilanda pemberontakan sayap kiri selama Perang Vietnam.

Gerald Ford, yang mengambil alih setelah pengunduran diri Richard Nixon dan tidak pernah terpilih sendiri secara nasional, juga menghadapi tantangan yang penuh semangat pada tahun 1976 dari Ronald Reagan.

Trump, di sisi lain, hampir mengambil alih Partai Republik, yang pada tahun 2020 hanya mengatakan bahwa itu mendukung agendanya.

"Para penantang Trump benar-benar harus keluar dari Partai Republik," kata Dallek.

Dengan kekalahan Trump dalam pemilihan umum tetapi berada di posisi dominan di partainya, banyak spekulasi telah dimulai tentang apakah ia akan mencari prestasi yang lebih tidak biasa. Misalnya, upaya untuk memenangkan masa jabatan kedua tetapi tidak berturut-turut pada tahun 2024 mendatang.

Selama ini, hanya satu presiden lain dalam sejarah AS yang menjalani dua masa jabatan yang tidak berturut-turut yakni kandidat Demokrat Grover Cleveland, yang memenangkan mandat keduanya pada tahun 1892, empat tahun setelah kalah tipis.

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini: