Joe Biden Pimpin Perolehan Suara, Tensi Politik AS Makin Panas

Ezra Sihite
·Bacaan 2 menit

VIVA- Hasil penghitungan baik suara elektoral maupun suara yang diberikan warga negara langsung atau popular vote belum rampung di Pemilu AS. Namun tensi politik di negara itu kini makin memanas setelah Donald Trump dan Joe Biden masing-masing meraup suara elektoral.

Diketahui hingga saat ini, Joe Biden memimpin perolehan suara elektoral atau elektor dengan angka 243 sementara Trump di 214 elektor.

Butuh setidaknya 270 dari 538 suara elektoral yang diperebutkan di Pilpres AS. Dilansir BBC, belum bisa dipastikan prediksi kuat siapa yang akan menjadi Presiden AS meskipun Biden yang merupakan penantang kini memimpin. Hal itu terjadi karena beberapa penghitungan di negara bagian kunci belum selesai dilakukan.

Joe Biden sendiri tanpa mengklaim menang mengatakan dia yakin usai penghitungan maka suara elektoral akan berpihak pada mereka. Sementara Trump sempat sudah melakukan klaim prematur menangi Pemilu AS karena merasa kuasai negara-negara bagian kunci.

Panasnya arena politik AS saat ini antara lain tergambar dari tak terimanya tim kampanye Trump akan hasil dua negara bagian yang ternyata memenangkan Joe Biden. Saat ini disebut tim Trump sedang mempersiapkan gugatan setidaknya untuk dua negara bagian.

Yang menarik bahwa Joe Biden diprediksi kuat segera memenangkan Wisconsin negara bagian yang pada pemilu sebelumnya dipegang Trump tersebut. Tim Trump bahkan mengatakan akan segera meminta hitung ulang di Wisconsin.

Pemilu AS kali ini termasuk paling bersejarah lantaran diselenggarakan pada saat pandemi COVID-19 yang sudah makan banyak korban jiwa di AS. Selain itu lebih dari 100 juta orang bahkan sudah memilih di pre-election dan mengirimkan suara mereka lewat pengiriman maupun pos.

Sebelumnya Joe Biden mengatakan semakin jelas bahwa dia kini makin cukup banyak punya peluang untuk segera memenangkan electoral votes atau suara elektoral di Pemilu AS.

Hingga Rabu, 4 November 2020 malam, dicatat bahwa Joe Biden sudah mendapatkan 243 suara elektoral. Sementara Donald Trump, calon petahana dari Republik masih tercatat mendapatkan 214 suara elektoral.

Jumlah suara elektoral itu dicatat setelah dihitunng suara di 43 negara bagian dari 50 negara bagian yang ada. Butuh 270 suara elektoral dari 538 yang ada untuk bisa memenangkan pilpres. Setiap negara bagian memiliki suara elektoral yang berbeda-beda.